Ku Buka Dengan......

Visitor

PESONA DUNIA

Minggu, 29 Januari 2012

Dikisahkan pada suatu ketika nabi Isa mengembara dibumi dengan ditemani oleh seorang Yahudi . Ia membawa dua potong roti sedang nabi Isa hanya membawa sepotong roti. Nabi Isa bertanya pada orang Yahudi itu:”Apakah engkau akan mengajakku makan bersama?”. Orang Yahudi itu menjawab:”Tentu”. Namun ketika ia mengetahui bahwa nabi Isa hanya membawa sepotong roti, ia menyesal. Ketika nabi Isa pergi untuk menunaikan shalat, orang Yahudi itu segera memakan sepotong roti yang ada padanya. Setelah nabi Isa selesai mengerjakan shalat, mereka berdua mengeluarkan makanannya. Nabi Isa bertanya:” Mana roti yang sepotong lagi?”. Orang Yahudi itu menjawab: “Aku hanya membawa sepotong roti”. Lalu nabi Isa makan satu roti dan orang Yahudi itu satu roti pula. Setelah itu mereka berdua melanjutkan perjalanannya.

Setelah lama berjalan, pada suatu sore merekapun sampai pada sebuah pohon yang rindang. Nabi Isa mengajak Yahudi itu untuk beristirahat dan bermalam dibawah pohon itu. Mereka bermalam dibawah pohon itu hingga datang pagi hari. Setelah itu mereka meninggalkan tempat itu melanjutkan perjalalanan hingga bertemu dengan seorang yang buta. Nabi Isa bertanya pada orang buta itu: “Jika aku mengobatimu hingga Allah mengembalikan penglihatanmu, apakah engkau akan bersyukur pada-Nya?”. Orang buta itu menjawab: “Tentu saja”. Lalu nabi Isa mengusap mata orang buta itu seraya berdo’a kepada Allah,seketika itu juga ia dapat melihat kembali. Kemudian nabi Isa bertanya pada orang Yahudi yang bersamanya: “Demi Allah yang membuat engkau melihat orang buta dapat melihat kembali, dimanakah roti yang sepotong lagi?”. Yahudi itu menjawab:” Demi Allah aku hanya membawa sepotong roti”. Nabi Isa hanya diam mendengar jawaban Yahudi itu.

Mereka berdua kemudian meneruskan perjalanan hingga lewat pada sekawanan rusa yang sedang merumput. Nabi Isa kemudian memanggil salah seekor rusa itu dan menyembelihnya. Mereka kemudian makan sebagian dagingnya. Setelah itu nabi Isa berkata pada rusa yang telah mati dan sudah tidak utuh itu: “Bangunlah, dengan izin dan kehendak Allah”. Rusa itupun bangun dengan keadaan utuh seperti semula. Melihat keajaiban itu, orang yahudi itu berkata:”Maha suci Allah”. Nabi Isa kemudian bertanya:” Demi Allah yang telah memperlihatkan kekuasaan-Nya padamu, siapakah yang telah memakan roti yang ketiga?”. Yahudi itu menjawab :”Demi Allah, yang ada padaku hanya sepotong roti”. Nabi Isapun diam.

Tanpa mengulang pertanyaannya,nabi Isa mengajak Yahudi itu melanjutkan perjalanannya, hingga sampai pada sebuah sungai yang lebar. Lalu Nabi Isa menuntun tangan Yahudi itu berjalan diatas air menyeberangi sungai tersebut. Sampai diseberang orang yahudi itu berkata : “Maha suci Allah”. Nabi Isa kemudian bertanya: “Demi Allah yang telah memperlihatkan kebesaran-Nya padamu, dimanakah roti yang ketiga?”. Orang Yahudi itu menjawab: “Demi Allah yang ada padaku hanya satu potong roti”.

Tanpa mengulang pertanyaannya, nabi Isapun mengajak Yahudi itu untuk melanjutkan perjalanan, hingga sampailah mereka pada suatu perkampungan yang telah hancur. Disana mereka menemukan tiga bongkah emas yang besar, lalu nabi Isa berkata:” Satu bongkah untukku, yang satu bongkah untukmu dan satu bongkah lagi untuk orang yang mengambil roti ketiga”. Yahudi itu berkata:”Akulah yang mengambil roti ketiga itu, aku telah memakannya saat engkau sedang shalat”. Nabi Isa berkata:”Jika demikian ambillah semua emas ini untukmu, dan tiba saatnya bagi kita untuk berpisah”. Kemudian Nabi Isa melanjutkan perjalananya meninggalkan Yahudi itu sibuk dengan bongkahan emas tersebut.

Sementara orang Yahudi tersebut terpaksa tinggal dikampung itu karena tidak menemukan apa apa untuk mengakut bongkahan emas tersebut. Tidak lama kemudian lewatlah tiga orang yang juga tertarik dengan emas tersebut, mereka membunuh Yahudi tersebut untuk menguasai bongkahan emas itu. Sekarang bongkahan emas itu dikuasai oleh ketiga orang tersebut. Dua dari tiga orang itu berkata kepada temannya yang satu: “Pergilah engkau mencari makanan untuk kita bertiga”. Iapun pergi mencari makanan. Sementara itu dua orang yang tinggal merencanakan untuk membunuh temannya itu jika ia kembali, kemudian emas itu dibagi antara mereka berdua.

Dalam perjalanan orang yang ditugasi mencari makanan juga membuat rencana busuk. Makanan yang dibawanya akan diberi racun agar kedua temannya itu mati, sehingga ia dapat menguasai emas itu seorang diri. Ketika ia kembali dengan membawa makanan yang telah diberi racun, ia segera dibunuh, lalu mereka berdua segera menyantap makanan itu. Tidak lama kemudian mereka berdua juga mati didekat emas itu. Ketika nabi Isa kembali lewat ditempat itu ia melihat keempat orang tersebut dalam keadaan tidak bernyawa didekat tumpukan emas itu. Ia berkata:”Demikianlah pesona dunia berbuat terhadap penghuninya, maka berhati hatilah”.

Astaghfirullah…….., Sahabat, berbohong, menipu, hingga membinasakan orang lain demi kekayaan itulah yang sedang terjadi di hampir semua bidang kehidupan, akankah kita ikut larut ? jangan, jangan, sekali lagi jangan…..Allah SWT sangat-sangat kaya, kekayaanNYA tidak akan pernah habis walau digarong oleh manusia-manusia rakus seluruh dunia.
Bersabar dan bersyukurlah walau saat ini baru sedikit kekayaan yang kita terima, bisa jadi segala permintaan dan kekayaan kita sudah ada di Sorga karena Allah ingin melihat kita selalu dekat denganNYA.

“ Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling rakus kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih rakus lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Al Baqarah 96)

“ dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan”. (Al Fajr 20)

Baca Selengkapnya yuukk...

CARA INDAH MENGAIS KEKAYAAN

Berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, saya dipertemukan dengan seorang hamba-Nya yang satu ini. Beliau adalah seorang leader yang selalu mengayomi, memberikan bimbingan, semangat, inspirasi, ide dan gagasan segar. Beliau seorang pemimpin yang mampu menggerakkan ratusan hingga ribuan anak buahnya. Beliau seorang guru yang memiliki lautan ilmu, yang selalu siap ditimba oleh anak-anaknya dan bagai tiada pernah habis.

Saat ini beliau memiliki berbagai macam bidang usaha, di antaranya sebagai supplier dan distribusi alat dan produk kesehatan, puluhan hektar tambak, puluhan hektar ladang, berpuluh rumah kos, ruko, stand penjualan di mall, apartemen dan lain-lain. Pernah saya mencoba menghitung, penghasilan beliau bisa mencapai Rp 1 Milyar per bulannya. Sebuah pencapaian luar biasa bagi saya dan kebanyakan orang lain.

Pertemuan antara saya dan beliau yang saya ceritakan di bawah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, di saat penghasilan beliau masih berkisar Rp 200 juta per bulan. Bagi saya, angka ini pun sudah bukan main dahsyatnya. Sengaja saya tidak menyebutkan namanya, karena cerita ini saya publish belum mendapatkan ijin dari beliau. Kita ambil wisdomnya saja ya.

Suatu hari, terjadilah dialog antara saya dengan beliau di serambi sebuah hotel di Bandung . Saya ingat, beliau berpesan bahwa beliau senang ditanya. Kalau ditanya, maka akan dijelaskan panjang lebar. Tapi kalau kita diam, maka beliau pun akan "tidur". Jadilah saya berpikir untuk selalu mengajaknya ngobrol. Bertanya apa saja yang bisa saya tanyakan.

Sampai akhirnya saya bertanya secara asal, "Pak, Anda saat ini kan bisa dibilang sukses. Paling tidak, lebih sukses daripada orang lain. Lalu menurut Anda, apa yang menjadi rahasia kesuksesan Anda?"

Tak dinyana beliau menjawab pertanyaan ini dengan serius.

" Ada empat hal yang harus Anda perhatikan," begitu beliau memulai penjelasannya.

RAHASIA PERTAMA

"Pertama. Jangan lupakan orang tua kita, khususnya ibu kita. Karena ibu adalah orang yang melahirkan kita ke muka bumi ini. Mulai dari mengandung 9 bulan lebih sampai melahirkan kita itu sangat berat. Ibu melahirkan kita dengan susah payah, sakit sekali, nyawa taruhannya. Surga di bawah telapak kaki ibu.. Ibu bagaikan pangeran katon (Tuhan yang kelihatan).

Banyak orang sekarang yang salah. Para guru dan kyai dicium tangannya, sementara kepada ibunya tidak pernah. Para guru dan kyai dipuja dan dielukan, diberi sumbangan materi jutaan rupiah, dibuatkan rumah; namun ibunya sendiri di rumah dibiarkan atau diberi materi tapi sedikit sekali. Banyak orang yang memberangkatkan haji guru atau kyainya, padahal ibunya sendiri belum dihajikan. Itu terbalik.

Pesan Nabi : Ibumu, ibumu, ibumu... baru kemudian ayahmu dan gurumu.
Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua. Kumpulkan seribu ulama untuk berdoa. Maka doa ibu kita jauh lebih mustajabah." Beliau mengambil napas sejenak.

RAHASIA KEDUA

"Kemudian yang kedua," beliau melanjutkan. "Banyaklah memberi. Banyaklah bersedekah. Allah berjanji membalas setiap uang yang kita keluarkan itu dengan berlipat ganda. Sedekah mampu mengalahkan angin. Sedekah bisa mengalahkan besi. Sedekah membersihkan harta dan hati kita. Sedekah melepaskan kita dari marabahaya. Allah mungkin membalas sedekah kita dengan rejeki yang banyak, kesehatan, terhindarkan kita dari bahaya, keluarga yang baik, ilmu, peluang dan kesempatan, dan lain-lain.

Jangan sepelekan bila ada pengemis datang meminta-minta kepada kita. Karena saat itulah sebenarnya Kita dibukakan pintu rejeki. Beri pengemis itu dengan pemberian yang baik dan sikap yang baik. Kalau punya uang kertas, lebih baik memberinya dengan uang kertas, bukan uang logam. Pilihkan lembar uang kertas yang masih bagus, bukan yang sudah lecek. Pegang dengan dua tangan, lalu ulurkan dengan sikap hormat kalau perlu sambil menunduk (menghormat) . Pengemis yang Anda beri dengan cara seperti itu, akan terketuk hatinya, 'Belum pernah ada orang yang memberi dan menghargaiku seperti ini.' Maka terucap atau tidak, dia akan mendoakan kita dengan kelimpahan rejeki, kesehatan dan kebahagiaan.

Banyak orang yang keliru dengan menolak pengemis yang mendatanginya, bahkan ada pula yang menghardiknya. Perbuatan itu sama saja dengan menutup pintu rejekinya sendiri.

Dalam kesempatan lain, ketika saya berjalan-jalan dengan beliau, beliau jelas mempraktekkan apa yang diucapkannya itu. Memberi pengemis dengan selembar uang ribuan yang masih bagus dan memberikannya dengan dua tangan sambil sedikit membungkuk hormat. Saya lihat pengemis itu memang berbinar dan betapa berterima kasihnya.


RAHASIA KETIGA

"Allah berjanji memberikan rejeki kepada kita dari jalan yang tidak disangka-sangka, " begitu beliau mengawali penjelasannya untuk rahasia ketiganya. "Tapi sedikit orang yang tahu, bagaimana caranya supaya itu cepat terjadi? Kebanyakan orang hanya menunggu. Padahal itu ada jalannya."

"Benar di Al Quran ada satu ayat yang kira-kira artinya : Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya diadakan-Nya jalan keluar baginya dan memberinya rejeki dari jalan/pintu yang tidak diduga-duga" , (QS Ath Thalaq 2-3). saya menimpali

"Nah, ingin tahu caranya bagaimana agar kita mendapatkan rejeki yang tidak diduga-duga? ," tanya beliau.

"Ya, bagaimana caranya?" jawab saya. Saya pikir cukup dengan bertaqwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka Allah akan mengirim rejeki itu datang untuk kita.

"Banyaklah menolong orang. Kalau ada orang yang butuh pertolongan, kalau ketemu orang yang kesulitan, langsung Anda bantu!" jawaban beliau ini membuat saya berpikir keras. "Saat seperti itulah, Anda menjadi rejeki yang tidak disangka-sangka bagi orang itu. Maka tentu balasannya adalah Allah akan memberikan kepadamu rejeki yang tidak disangka-sangka pula."

"Walau pun itu orang kaya?" tanya saya.

"Ya, walau itu orang kaya, suatu saat dia pun butuh bantuan. Mungkin dompetnya hilang, mungkin ban mobilnya bocor, atau apa saja. Maka jika Anda temui itu dan Anda bisa menolongnya, segera bantulah."

"Walau itu orang yang berpura-pura? Sekarang kan banyak orang jalan kaki, datang ke rumah kita, pura-pura minta sumbangan rumah ibadah, atau pura-pura belum makan, tapi ternyata cuma bohongan. Sumbangan yang katanya untuk rumah ibadah, sebenarnya dia makan sendiri," saya bertanya lagi.

"Ya walau orang itu cuma berpura-pura seperti itu," jawab beliau. "Kalau Anda tanya, sebenarnya dia pun tidak suka melakukan kebohongan itu. Dia itu sudah frustasi karena tidak bisa bekerja atau tidak punya pekerjaan yang benar. Dia itu butuh makan, namun sudah buntu pikirannya. Akhirnya itulah yang bisa dia lakukan. Soal itu nanti, serahkan pada Allah. Allah yang menghakimi perbuatannya, dan Allah yang membalas niat dan pemberian Anda."

RAHASIA KEEMPAT

Wah, makin menarik, nih. Saya manggut-manggut. Sebenarnya saya tidak menyangka kalau pertanyaan asal-asalan saya tadi berbuah jawaban yang begitu serius dan panjang. Sekarang tinggal satu rahasia lagi, dari empat rahasia seperti yang dikatakan beliau sebelumnya.

"Yang keempat nih, Mas," beliau memulai. "Jangan mempermainkan wanita, sayangi mereka, berdayakan dan carikan jalan keluar atas segala permasalahannya".

Hm... ini membuat saya berpikir keras. Apa maksudnya. Apakah kita membuat janji dengan teman wanita, lalu tidak kita tepati? Atau jangan biarkan wanita menunggu? Seperti di film-film saja.

"Maksudnya begini. Anda kan punya istri, Itu adalah pasangan hidup Anda, baik di saat susah maupun senang. Ketika Anda pergi meninggalkan rumah untuk mencari nafkah, dia di rumah menunggu dan berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan Anda. Dia ikut bersama Anda di kala Anda susah, penghasilan yang pas-pasan, makan dan pakaian seadanya, dia mendampingi Anda dan mendukung segala usaha Anda untuk berhasil."

"Lalu?" saya tak sabar untuk tahu kelanjutan maksudnya.

"Banyak orang yang kemudian ketika sukses, uangnya banyak, punya jabatan, lalu cari selingkuhan. Atau mulai bermain wanita .Baik menikah lagi secara diam-diam, atau terang-tarangan tanpa ridho dari istri Anda itu menyakiti hati pasangan hidup Anda. Ingat, pasangan hidup yang dulu mendampingi Anda di kala susah, mendukung dan berdoa untuk kesuksesan Anda. Namun ketika Anda mendapatkan sukses itu, Anda meninggalkannya. Atau Anda menduakannya tanpa keikhlasan darinya atau bahkan tanpa sepengetahuannya. "

Oh... pelajaran monogami nih, pikir saya dalam hati.

"Banyak orang yang lupa hal itu. Begitu sudah jadi orang besar, uangnya banyak, lalu cari istri lagi. Menikah lagi. Rumah tangganya jadi kacau. Ketika merasa ditinggalkan, pasangan hidupnya menjadi tidak rela. Akhirnya uangnya habis untuk biaya sana-sini. Banyak orang yang jatuh karena hal seperti ini. Dia lupa bahwa pasangan hidupnya itu sebenarnya ikut punya andil dalam kesuksesan dirinya," beliau melanjutkan.

Baca Selengkapnya yuukk...

Calon-Calon Pemenang

Senin, 28 November 2011

Pada era baru sekarang, kehidupan dirasakan semakin keras dan kompetitif hampir di segala bidang kehidupan. Kenyataan ini mengharuskan kita untuk mempertinggi kapasitas dan kapabilitas agar bisa eksis, survive, dan dalam persaingan yang sangat ketat itu kita harus jadi pemenang (be winner), bukan pecundang (loser).

Mental sebagai pemenang ini, menurut Sayyid Qutub, harus menjadi watak dan karakter kaum Muslim. Iman yang kuat, perjuangan yang tak kenal lelah (jihad), tahan uji, dan kesabaran yang membaja (shabrun wa tsabat), disertai penyerahan diri secara total kepada Allah semata (tawakkulun wa tawajjuhun ila Allahi wahdah), merupakan jalan kemenangan yang diajarkan Islam. (Ma`alim fi al-Thariq, 1978).

Dalam Alquran, kaum Muslim diingatkan agar memiliki kesiapan mental sebagai pemenang, memiliki rasa percaya diri (self confidence) yang tinggi, dan tak boleh memelihara sikap keluh kesah (blaming) apalagi sindrom rendah diri. “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Padahal, kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali Imran [3]: 139).

Untuk menjadi pemenang, selain memiliki ilmu (knowledge) dan keterampilan tinggi (skillful), kita perlu membekali diri dengan empat kekuatan lain. Pertama, visi atau cita-cita yang tinggi (himmah aliyah). Perlu disadari bahwa manusia hanya sebesar visinya, tak lebih dari itu. Visi adalah kekuatan, karena menurut para ulama visi bisa merobohkan hambatan sebesar gunung sekali pun (himmat al-rijal tahdim al-jibal).

Kedua, keyakinan yang kuat (strong believe) bahwa apa yang dicita-citakan akan menjadi kenyataan. Keyakinan juga penting, karena orang yang tidak yakin ia tak bisa melangkah lebih jauh. Keyakinan (conviction) berbeda dengan preferensi (kegemaran). Preferensi bisa ditawar-tawar (negotiable), sedangkan keyakinan tidak. Bagi para pejuang Islam, keyakinan di sini termasuk keyakinan akan janji kemenangan dan pertolongan dari Allah. “Hai orang-orang Mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS Muhammad [47]: 7).

Ketiga, keberanian (syaja`ah) dalam mencapai cita-cita (kemenangan). Keberanian, kata al-Ghazali, termasuk salah satu keutamaan (fadilah) yang menjadi pangkal kebaikan dan kemenangan. Tak ada keberhasilan tanpa keberanian, baik dalam soal agama maupun dunia. Keberhasilan hanya milik orang-orang yang berani. Yaitu, keberanian dalam mengambil keputusan serta membela dan mempertahankan apa yang diyakini sebagai kebenaran apa pun risikonya. (QS al-Maidah [5]: 54).

Keempat, mental dan karakter pemenang. Salah satu karakter pemenang adalah menjadi pelaku atau pemain player (fa`il) bukan penonton apalagi hanya objek tontonan (maf`ul). Sebab, hanya pemainlah yang berpeluang besar menjadi pemenang. Maka, perintah Alquran agar kita bersaing (QS al-Baqarah [2]: 148), bersikap profesional, ihsan dan itqan (QS an-Naml [27]: 88), hidup dan mati sebagai yang terbaik, dan the best (QS al-Mulk [67]: 2), semuanya merupakan pembelajaran agar kita memiliki mental dan karakter sebagai pemenang. Wallahu a`lam.

Baca Selengkapnya yuukk...

Hidup Di Dunia Nyari Apa..?

Dalam kajian para filosofi manusia menjadi salah satu obyek kajian tersendiri, filsafat manusia. Diantara yang dibahas adalah tujuan hidup manusia. Sebut saja Aristoteles, seorang filosofi yang sudah tak asing lagi, dari Yunani. Konsep tujuan hidup manusia menurut Aristoteles terkenal dalam karyanya Ethika Nicomachea. Yaitu, “Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia). Orang yang sudah bahagia tidak memerlukan apa-apa lagi pada satu sisi, dan pada sisi lain tidak masuk akal jika ia masih ingin mencari sesuatu yang lain. Hidup manusia akan semakin bermutu manakala semakin dapat mencapai apa yang menjadi tujuan hidupnya. Dengan mencapai tujuan hidup, manusia akan mencapai dirinya secara penuh, sehingga mencapai mutu yang terbuka bagi dirinya”.

Secara sederhana pernyataan filsuf legendaris tersebut sejalan dengan fitrah manusia. Dimana manusia lebih cenderung (baca mencari) kebahagiaan dan cenderung menghindari kesedihan atau kesusahaan. Jika memang mencari kebahagiaan adalah fitrah dan tujuan hidup manusia. Lantas pertanyaannya kebahagiaan seperti apa? Kemudian apakah semata-mata hanya mencari kebahagiaan?

Banyak orang menafsirkan dan memaknai kebahagiaan disini. Salah satu yang sering dianggap dapat mewujudkan kebahagiaan secara mutlak adalah jika mendapatkan kekuasaan, harta, dan wanita. Karena itu tak jarang kita melihat sekian banyak orang berlomba-lomba mendapatkan keitga hal yang mendasar tersebut. Pada akhirnya terjebak dalam gaya hidup hedonis bahkan menjadi hamba dunia.
Islam mempunyai konsep yang lebih sempurna dan jelas tentang tujuan hidup manusia ini. Allah swt berfirman dalam Al Quran “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." (Adz Dzariaat [51] : 56).

Ini adalah hal yang paling mendasar dalam konsep Islam tentang tujuan hidup manusia. Tidak lain manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah swt. Sebagai Sang Pencipta maka Allah mempunyai hak yang absolut terhadap hambanya.
Menurut Ibnu Abas dalam tafsir Ibnu Katsir, kalimat “Liya’buduun” dalam ayat tersebut bermakna “ menghinakan diri kepada Allah dan mengagungkan-Nya”. Dengan begitu ibadah disini mempunyai cakupan arti yang luas. Tidak hanya sebatas ibadah yang kita kenal. Yaitu, shalat, zakat, shaum, dan haji. Secara sederhana dapat kita pahami, segala sesuatu yang diniatkan lillahi ta’la dan tidak melanggar syariat maka ia bernilai ibadah, inysa Allah.

Yang sangat menarik di sini ternyata ibadah tidak hanya bekerja secara sepihak. Akan tetapi mempunyai timbal balik bagi manusia itu sendiri. Ibadah bukan hanya semata-mata kewajiban kita sebagai seorang hamba kepada Sang Penciptanya. Ibadah mempunyai efek psikis yang menjadi tujuan hidup dalam kacamata filsafat, yaitu kebahagiaan.
Jika kita benar-benar telah ikhlas dan benar-benar memahami hakikat ibadah itu sendiri. Kita akan merasakan kebahagiaan setiap kali kita selesai menunaikan ibadah. Artinya ibadah apapun itu bukan semata-mata gerak tubuh dalam ritual khusus. Juga bukan semata menunaikan kewajiban. Rasulullah saw bersabda, “Berdirilah Bilal, maka nyamankan kami dengan sholat” (H.R Abu Dawud). Dalam riwayat lain “Wahai Bilal dirikanlah sholat (maksudnya kumandangkanlah adzhan untuk panggilan sholat wajib) nyamankan kami dengannya (dengan shalat)."

Dari hadis tersebut jelas menggambarkan bahwasanya sholat (ibadah) membawa kenyamanan bagi yang menunaikannya. Bahkan ketika ia meniggalkannya maka ia akan merasa sedih. Sebaliknya ketika ia menunaikannya ia akan merasa bahagia. Wallahu a’lam bis showab.

Baca Selengkapnya yuukk...

Teriak Allahu Akbar, Kepalkan Tangan, Lalu Tugas ke Daerah

Jumat, 30 September 2011


Ahad, 25 September 2011

Thola'al badru 'alayna.
Min-tsaniyyatil wada'
Wajabasy syukru 'alayna.
Ma da'a lillahi da'

Ayyuhal mab'u-tsu fiina.
Ji'ta bil amril mutho'
Anta ghow-tsuna jami'a.
Ya mujammalath thiba'

Bunyi shalawat Thola'al badru mengalun merdu ketika 37 kader dai memasuki ruangan, Sabtu (9/24/2011). Mereka mengenakan gamis panjang dan songkok yang serba putih. Langkah mereka tampak tegap dan mantap. Para tamu undangan sibuk memotret sekenanya dengan handphone. Alunan shalawat pun berhenti ketika mereka telah menempati tempat duduk.

Suasana ruangan yang terisi sekitar dua ratus lebih tamu undangan itu mendadak khidmah. Pandangan mereka fokus ke depan. Lebih-lebih ketika, M Gatot Manisya Abab, pembawa acara membuka prosesi sakral itu. Keramaian pun berganti suasana penuh haru.

Di antara tamu undangan yang hadir itu, Muhammad Sudding, ayah dari kader dai Abdurrahman Sudding salah satunya yang merasa paling bahagia. Sejak tadi, pandangannya tak pernah lepas dari anak tercintanya yang duduk di antara deretan kader dai di depannya. Tampak dilihatnya lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca.

“Saya bangga dan bersyukur anakku sudah jadi sarjana. Dan lebih bersyukur lagi, sekarang dia menjadi dai yang akan ditugaskan keluar daerah,” ujar bapak asal Balikpapan, Kalimantan Timur ini kepada hidayatullah.com dengan mantap.

Dalam acara itu, bapak asal Sulawesi ini datang langsung dari Balikpapan, Kaltim bersama anaknya, Rauf. Meski ongkos tiket pesawat mahal, tapi karena acara itu penting maka dipaksakan datang.

“Saya usahakan untuk datang. Tapi, hanya dengan anak. Ibu nggak bisa ikut. Ia hanya titip salam saja,” tuturnya.

Menurut ayah lima anak ini, sudah sejak lama ia inginkan anaknya menjadi dai. Dai, katanya pekerjaan sangat mulia. Karena itu, usai selesai SMA, Abdurrahman Sudding dikirimkan ke STAIL Surabaya. Ia pun ikhlas dan pasrah bila mana anaknya ditugaskan ke daerah terpencil.

“InsyaAllah ikhlas. Dimana pun tempat tugasnya. Toh, Allah akan selalu menolongnya,” ungkapnya penuh yakin.

Jauh dekat baginya sama saja: sama-sama berjuang mendakwahkan Islam. Meski risiko akan jarang ketemu. Sejak kuliah selama empat tahun saja, katanya, Abdurrahman baru sekali pulang kampung. Apa ada rasa kangen?

“Tentu ada. Tapi toh bisa diobati dengan nelpon. Kangen itu sudah risiko perjuangan. Tak masalah,” ujar lekali paruh baya yang memiliki jenggot panjang dan putih itu.

Keinginannya agar anaknya menjadi dai betul-betul ditunjukkan Muhammad Sudding. Pasalnya, tidak hanya Abdurrahman, ia juga menguliahkan Rauf ke kampus yang terletak di Keputih, Surabaya itu. Kini Rauf duduk di semester lima.

“Saya berharap mereka semuanya menjadi dai, pejuang Allah,” harapnya.

Muhammad Sudding adalah warga pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan. Sehari-hari sibuk sebagai takmir masjid Arriyad dan dapur umum.

STAIL adalah Perguruan Tinggi milik organisasi Hidayatullah. Selain menyediakan program ekstensi (umum), PT ini juga menyediakan program khusus beasiswa (reguler). Untuk program reguler, mahasiswa mendapat beasiswa penuh selama kuliah dan mendapat program kaderisasi secara khusus.

"Jadi mereka tidak saja diwisuda, tapi juga ditugaskan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia," kata Ketua Bidang Akademik, Masyhud, M.Si.

Masa penugasan, kata Masyhud selama lima tahun, atau dihitung masa kuliah empat tahun plus satu tahun.

"Tapi itu secara formal untuk megambil ijazah asli. Kalau pengabdiannya diharapkan bisa seumur hidup mengabdi," ujarnya.

PT ini baru memiliki dua jurusan, dakwah dan tarbiyah. Kini, ada seratus lebih mahasiswanya dari berbagai daerah.

Sejam lebih acara berlangsung, tapi waktu seolah lambat berputar. Muhammad Sudding dan orangtua kader dai lainnya tampak masih melihat anak mereka lekat-lekat ketika Ketua Bidang Pendidikan Hidayatullah, Drs. Ali Imron membacakan Surat Keputusan Penugasan.

Ada perasaan bak gado-gado di dada mereka: ya terharu, ya was-was, dan paling menggelitik, menegangkan! Pasalnya, hari ini anak mereka akan ditugaskan entah ke daerah mana. Dan, itu berarti bakal jauh dari mereka.

Ali Imron membuka map bersampul batik yang berisi SK sambil mendekatkan mikrofon ke mulutnya. Dengan mengucap basmalah, ia pun mulai membaca SK tersebut. Peserta mendengrkan penuh khidmah. Wajah kader dai terlihat tegang.

Usai membacakan SK, ia memberikan pesan singkat. Katanya, ada tiga kunci sukses bagi kader dai di tempat tugas. Yaitu: jujur, berani, dan bekerja keras.

“Jangan bermimpi sukses kalau tidak memiliki ketiga hal ini,” tegasnya.

Menurutnya ketiga hal tersebut kini jarang dimiliki anak bangsa. Karena itu, wajar bila Indonesia jauh tertinggal bila dibanding negara tetangga seperti, Singapura dan Malaysia.

Ia pun menceritakan pengalamannya beberapa waktu lalu ketika berada di pelataran Masjidil Haram, Makkah bertemu dengan orang-orang Melayu. Tahu jika ia datang dari Indonesia, mereka langsung mengucapkan kata terimakasih.

Imron bingung. Kenapa harus berterimakasih kepadanya? Tapi ia merasa kaget ketika orang Melayu dari Singapura dan Malaysia itu bilang, “Gara-gara banyak orang Indon di negeriku, negeriku menjadi bersih."

“Tidak malukah kalian dengan ungkapan terimakasih itu,” tanyanya.

Imron pun menjelaskan kenapa Singapura dan Malaysia bisa maju, bahkan melebihi Indonesia.

“Mereka bekerja keras dan berani mengambil risiko. Kalau kalian ingin menjadi dai sukses, beranilah. Jangan takut mengambil risiko,” tegasnya.

Tepat pukul 10.30 acara yang dinanti-nanti akhirnya tiba: pembacaan tempat tugas kader dai. Rona wajah kee 37 kader dai yang duduk di pojok ruangan tampak berubah. Mereka merasakan sesuatu yang membuat jantung mereka berdebar-debar hebat.

“Ini detik-detik yang menegangkan,” ujar salah seorang tamu undangan.

MC pun memanggil satu persatu kader dai. Ia memanggil Syarif Hidayatullah, kader dai asal Sulawesi Barat. Beberapa detik Syarif mematung di atas panggung. Jantungnya seolah berdetak lebih cepat. Sebelum ketegangan itu meledak, MC pun melanjutkan lagi, “Syarif Hidayatullah, dengan daerah tugas, Papua Irian Jaya,”.

Syarif pun mengumandangkan takbir “Allahu Akbar” dengan mengepalkan tangannya ke atas. Diikuti teman-temannya. Tapi, tidak semunya mengucapkan takbir taklala dibacakan tempat tugas. Ada yang hanya diam, berkata “Subhanallah”, “Alhamdulillah,” dan ada juga yang sujud syukur.

Akhirnya teka-teki tempat tugas terjawab sudah. Ada yang di Papua yang terkenal nyamuk malariannya, ada yang di Ambon kota yang baru saja terjadi konflik, dan ada juga yang Sumatera. Meski berat melepas anak mereka, umumnya para orangtua pun lega.

Acara diakhiri dengan pembacaan lagu “Selamat Tinggal Sahabatku” dari Izzatul Islam. Suara mereka terdengar serak. Terlihat ada yang mengalir bening dari kelopak mata mereka.

Selamat tinggal sahabatku

Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri Seberang

Selamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slalu

Kuberjanji dalam hati
Untuk segera kembali
Menjayakan negeri ini
Dengan ridho Ilahi

Selamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri Seberang

Selamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slalu

Kalaupun tak lagi jumpa
Usahlah kau berduka
Semoga tunai cita - cita
Raih gelar syuhada*

hidayatullah.com
Rep: Syaiful Anshor
Red: Cholis Akbar

Baca Selengkapnya yuukk...

MODERNISME

Senin, 23 Mei 2011

Tantangan mendasar yang dihadapi umat islam dewasa ini sebenarnya bukan berupa ekonomi, polititk, sosial dan budaya, tapi tantangan pemikiran. Sebab persoalan yang timbul dalam bidang-bidang terkait lainnya, jika dilacak, ternyata bersumber pada persoalan pemikiran. Tantangan pemikiran itu bersifat internal dan eksternal sekaligus. Tantangan internal telah lama kita sadari yaitu kejumudan, fanatisme, taqlid, bidah kurafat. Sebagaimana akibatnya adalah lambatnya atau semberononya proses ijtihad umat islam dalam merespon berbagai tantangan kontemporer, lambatnya perkembangan ilmu pengetahuan islam dan pesatnya perkembangan aktifisme. Sedangkan tantangan eksternalnya adalah masuknya paham, konsep, sistim, dan cara pandang asing seperti liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, relativisme, feminisme & gender dan lainya sebagainya kedalam wacana pemikiran keagamaan islam. Dan sebagai akibat tantangan eksternal adalah bercampurnya konsep-konsep asing kedalam pemikiran dan kehidupan umat islam, sehingga kerancuan berfikir dan kebingungan intelektual tidak dapat diletakkan. Mereka yang terhegemoni oleh framework yang tidak sejalan dengan islam ini, misalnya, akan melihat islam dengan kaca mata sekuler, liberal dan relativistik.

Meski tantangan kedua tantangan tersebut perlu dibahas secara mendalam dan serius, namun tantangan yang sangat urgen untuk dibahas, dihadapi dan direspon saat ini adalah tantangan eksternal umat islam, khususnya tantangan liberalisasi pemikiran umat Islam. Tantangan yang kini sangat gencar disebarkan melalui berbagai media komunikasi dan pendidikan itu tenyata tidak berdiri sendiri. Ia merupakan program yang sejalan dengan dokrin postmodernisme yang mengusung dokrin relativisme, nihilisme, prularisme, persamaan, feminisme & gender dan lain sebaginya.
BAB II
Istilah “modern” berasal dari bahasa latin yaitu “modo” yang berarti yang kini (just now). Meskipun istilah ini sudah muncul pada akhir abad ke-5, yang digunakan untuk membedakan keadaan orang Kristen dan orang Romawi dari masa pagan yang telah lewat, namun istilah ini kemudian lebih digunakan untuk menunjukan priode sejarah setelah Abad Pertengahan, yakni pada tahun 1450 sampai sekarang ini .
Sejarah perkembangan peradaban Barat memang telah melewati masa yang sangat panjang, yakni kurang lebih dari dua puluh lima abad. Perkembangan yang panjang itu oleh parah ahli sejarah dibagi dalam menjadi tiga priode, yaitu
1. Priode encient (kuno)
2. Priode medival (pertengahan)
3. Priode modern (maju)
Pembagian ke dalam tiga priode tersebut disebabkan adanya perubahan dan perkembangan yang jelas mebedakan antara priode yang satu dengan priode yang lainnya. Kajian sejarah telah menunjukan bahwa ada perbedaan yang sangat menonjol yang menandai priode satu berbeda dengan priode yang lain, utamanya menyangkut perbedaan konsepsi manusia mengenai hidup dan sikap pemikirannya.
Priode modern sejarah perkembangan perdaban barat, bukanlah sebuah priode yang muncul begitu saja diruang hampa, melainkan ada keterkaitan dengan priode-priode sebelumnya. Dan pada abad ke-IV dan XVI, manusia barat modern ingin melepaskan diri dari dominasi gereja yang sedemikian rupa mendukung kebebesannya. Dengan kebebasan itulah manusia barat modern mampu mengembengkan perdabannya sedemikian cepat, sehingga mencapai kemajuan seperti sekarang ini. Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa yang menjadi elan vital dari kemajuan barat modern adalah pandangan dunianya yang menekankan sentralnya peran akal, kebebasan dan otonomi manusia. Dengan itu, manusia Barat dapat menciptakan dan menentukan dunianya, membuat sejarah dan masa depanya sendiri.

Modern bukanlah sekadar suatu priode, melainkan pandangan dunia atau prinsip metafisis (ONTOLOGIS). Oleh karena itu, dunia modern diartikan sebagai draff dunia yang dominasi oleh pandangan dunia modern. Dengan perkataan lain, dunia modern merupakan prinsip-prinsip modern dalam kehidupan manusia atau masyarakat.
Menurut parah ahli sejarah, awal terjadi pristiwa modern ditandai dengan pergeseran teosentris ke antroposentris dalam kehidupan masyarakat. Pergesran tersebut merupakan suatu hal khas barat atau dunia kristiani. Oleh karena itu, pergeseran tersebut sama dengan mengatakan terjadinya pergeseran otoritas yang awalnya dimonopoli oleh gereja, kemudian ke individu. Akan tetapi, secara umum pergeseran tersebut bisa dimaknai, jika menggunakan sudut pandang kalangan perenialis, lepas atau tercabutnya dimensi spiritual dalam kehidupan masyarakat. Hal tersebut adalah cirri-ciri dari dimensi metafisis dan filosofis modern.
Adapun dari karakter sains modern, pergeseran terjadi dari pelacakan jejak tuhan ( vestigia Dei ) dalam penaklukan alam. Sains modern pada prinsipnya merupakan narasi penaklukan atau penundukan. Penaklukan atau penundukan dalam hal ini dipandang dari segi alam dan perempuan . Alam dilihat sebagai sesuatu yang kacau, tidak tertata, dan irasional. Oleh karena itu, Alam dan Perempuan harus ditundukkan atau ditaklukkan. Sebelum pandangan dunia modern muncul sebagai fenomena mainstream, sejak zaman neolitikum, masyarakat melakukan domestifikasi alam hanya umtuk keperluan tempat tinggal dan konsumsi. Ketika pandangan dunia modern hadir sebagai suatu hal, niscaya ditengah masyarakat, domenstifikasi alam tidak sekadar untuk memenuhi keperluan tempat tinggal menetap dan konsumsi, tetapi alam secara substansialpun didomenstifikasi. Dari sinilah muncul gagasan civilized dan uncivilized. Persoalan domenstifikasi alam pun turut menjadi suatu. Masyarakat prasejarah yang hidup penuh keharmonisan dengan alam disebut uncivilized karena tidak melakukan domestifikasi penuh terhadap substansi alam.
Penanda modern lain di antaranya, ialah:
a. Munculnya kolonianisme atas nama civilization
b. Revolusi prancis
c. Kapitalisme
d. Komodifikasi
e. Mediasi dalam relasi
f. Mekanisasi kehidupan

Karakter-karakter tersebut pada akhirnya turut memengaruhi bagaimana teologi dalam islam diperbincangkan dan dimaknai. Misalnya, gagasan konflik antara sains dan agama merupakan fenomena barat. Dalam islam, sains dan agama tidak pernah dipertentang sebagai hal mainstream. Ketika teologi islam memasuki diskursus ini, mau tidak mau telah muncul asumsi ( hidden assumption ) bahwa sains dan agama –dalam hal ini islam- bertentangan.
Konsep teologi secara historis merupakan term khas Kristen atau perspektif barat ( western worldvie ). Dalam islam, dikenal konsep atau disiplin kalam yang biasanya dipadankan dengan teologi. Secara historis, teologi dengan kalam memiliki perbedaan.

Setelah berkembang selama hampir empat abad sejak kelahirannya pada abad ketujuh belas, dewasa ini ilmu pengetahuan modern dalam keadaan kritis, paling tidak dengan landasan filosofisnya. Kondisi demikian menyebabkan peradaban modern juga berada dalam kondisi kritis. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ilmu pengetahuanlah yang menjadi tulang punggung peradaban modern. Apabila peradaban modern berada dalam keadaan krisis itu ditulang punggungi oleh ilmu pengetahuan modern, ilmu pengetahuan itu sendiri tidak lain adalah perwujudan eksternal suatu epistemology, yang dalam hal ini adalah epistemology emperisme yang dipelopori oleh Francis Bacon dan epistemologi rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes, yang ciri utamanya adalah dikotomi antara “fakta” dan “nilai”, serta antara “realitas objektif” dan “emosi subjektif”. Oleh karena itu, sebagaimana yang dikatakan oleh Sardar, bahwa munculnya berbagai macam bencana adalah akibat kesalahan-kesalahan epistemologi barat. Melihat kenyataan seperti itu, dewasa ini banyak pemikir, baik di kalangan pemikir barat sendiri maupun dikalangan pemikir Muslim, yang merasa sangat berkepentingan untuk mengkaji ulang secara kritis terhadap ilmu pengetahuan modern, terutama berkenaan dengan landasan epistemologisnnya, dan berusaha untuk menemukan paradigma ilmu pengetahuan alternative yang diharapkan dapat lebih membahagiaan umat manusia.
Yang dimaksud dengan Ilmu Pengetahuan Modern adalah Model pengkajian alam semesta yang dikembangkan oleh para filosof dan ilmuwan Barat sejak abad ketujuh belas, termasuk seluruh aplikasi praktisnya dalam wiliyah technologi. Secara historis, Francis Bacon (1561-1626) dapat dipandang sebagai orang yang merintis suatu perkembangan besar pada abad ketujuh belas, yaitu dengan meninggalkan ilmu pengetahuan lama dan mengusahakan yang baru. Bacon dapat dipandang sebagai orang pertama yang meletakkan dasar-dasar bagi metode induksi modern dan menjadi pelopor dalam usaha untuk mensistermatisir secara logis prosedur ilmiah .











BAB III
POSTMODERNISME

B. Asal Usul Postmodernisme
Postmodernisme adalah gerakan pemikiran yang lahir sebagai protes terhadap modernism ataupun kelanjutannya. Sebab postmodernisme sedikit banyak masih berpijak pada modernisme, yang didominasi oleh paham atau pemikiran liberalisme, pluralisme, nihilisme, relatifisme, persamaan, dan pada umumnya anti wordvieu. Jhon lock, salahseorang filosof barat modern mengaskan bahwa ribelarisme rasionalisme, kebebasan, dan persamaan (pluralisme) adalah inti modernisme.
Sebagai gerakan kultural-intelektual, postmodernisme sendiri sudah muncul pada tahun 1960-an, yang bermula dari bidang seni-arsitektur, kita dapat melihat aspek-aspek dan corak tradisional seperti bangunan di pusat ibu kota Jakarta yaitu Gedung Dharmala. hal inilah yang membedakan dengan ciri khas bangunan-bangunan modernisme yang memiliki ciri utama yaitu Gedung yang menjulang tinggi kelangit tanpa banyak variasi sebagi contoh, lhat saja gedung-gedung di kota-kota modern dai New York, Jeddah sampai Jakarta. kemudian merambah kebidang-bidang yang lain, baik itu sastra, ilmu social, gaya hidup (life style), filafat, bahkan juga agama. Gerakan postmodernnisme ini lahir di eropa dan menjalar ke Amerika, serta kemudian keseluruh dunia bagaikan luapan air yang tak terbendung.

B. Struktur Fundamental Pemikiran Postmodernisme
Jika peristilahan filsafat pada umunya hanya terbatas pada dataran kognitif, yang sering kali terlampau abstrak, sehingga sulit untuk dicerna dan dipahami oleh masyarakat luas maka, lain halnya dengan istilah postmodernisme. Istailah postmodernisme, yang sebenarnya juga ada pada dataran kognitif-abstrak, namun kemnuculannya pada masa sekarang ini dengan bukti sejarah yang kongkrit, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat yang luas.
Inti pokok aluran pikiran postmodernisme adalah menentang segala yang berbau kemutlakan dan baku, menolak dan menghindari suatu sistematika uraian atau pemecahan persoalan yang sederhana dan skematis, serta memanfaatkan nilai-nilai yang berasal dari berbagai aneka ragam sumber.
Menurut dugaan penulis, agaknya jika tanpa dibarengi dengan latar belakang pendalaman dalam diskursus kefilsafatan, agak sulit untuk mencermati alur dan memahami pemikiran postmodernisme baik untuk mengapresiasinya atau mengcounter argumentasinya. Tak pelak lagi orang seperti Ernest Gellner, seorang antropolog inggris menganggap bahwa postmodernisme tidak lain dan tidak bukan adalah relativisme dalam bentuk dan wajahnya yang baru. Akbar S. Ahmed, seorang antropolog dan filosof keturunan india atau Pakistan yang tinggal di London, menambah unsur media sebagai pemicu dan sekaligus bagian yang tak terpisahkan dari wacana postmodernisme.
Secara filosofis postmodernisme juga merupakan yang tidak mempercayai kebenaran obyektif atau saintifik yang menjadi ciri modernisme. Hal ini dapat dilacak dari pemikiran Immanuel Kant (!724-1804), GWF Hegel (1770-1830), dan Karl Marx yang menganggap bahwa masyarakat barat itu progressif, tidak pernah final dan akan menuju kesempurnaan dengan cara evolusi, perkembangan social, pendidikan dan pemanfaatan sains.
Kelahiran postmodernisme juga sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang juga telah berubah menjadi mitos baru. Filsafat modern yang lahir sebagai reaksi terhadap sikap dogmatis abad pertengahan, menurut kaum postmodernisme telah terjebak dalam membangun mitos-mitos baru. Mitos-mitos itu ialah suatu keyakinan bahwa dengan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan, dan aplikasinya dalam teknologi, segala persoalan kemanusiaan dapat terselesaikan. Di sinilah postmodernisme “menggugat” modernisme yang telah mandeg dan berubah menjadi mitos baru.
Istilah postmodernisme telah digunakan dalam demikian banyak bidang dengan meriah. Kemeriahan ini menyebabkan setiap referensi kepadanya mengandung resiko di cap sebagai ikut mengabadikan metode intelektual yang dangka dan kosong.
Abad ke 19 adalah era dimana modernitas mulai dipertanyakan oleh suatu gerakan filsafat yang berpegang pada prinsip yang meragukan bahwa realitas memiliki struktur yang dapat difahami oleh manusia.
Atmosfir pemikiran postmodernisme dapat digambarkan melalui pernyataan bahwa “ segala sesuatu adalah teks, dan materi dasar teks itu yang serupa masyarakat dan bahkan nyaris segala sesutunya difahami sebagai makna, dan makna itu harus didekonstruksi; pernyataan tentang realitas obyektif harus dicurigai. Formulasi Gellner adalah tepat sebab dalam diskursus para pemikir postmodernisme dunia ini dianggap sebagai makna. Bahkan segala sesuatu adalah makna dan makna adalah segala sesuatu, dan hermeneutika adalah “nabinya”. Disisni yang dipentingkan adalah interpretasi realitas obyektif dan bukan realitas obyektifnya. Sebab dalam pemikiran post modernisme kebenaran obyektif telah digantikan oleh kebenaran hermeneutika . artinya dalam kebenaran hermeneutika itu subyektifitas pencari kebenaran, pembaca atau pendengar itu sangat dihargai. Dalam kondisi seperti ini, Ernest Gellner menyatakan bahwa postmodernisme Nampak jelas mendukung paham Relativisme. Kebenaran bagi posrmodernisme adalah kabur, subyektif dan internal, oleh sebab itu mereka tidak menerima kebenaran tunggal, ekslusif, obyektif, eksternal dan transenden.
Atmosfir pemikiran postmodernisme dengan doktrin subyektifitas dan relatifitas kebenaran ini adalah salah satu faktor penting lahirnya paham pluralism dan juga pluralisme agama, yaitu faham yang diusung oleh liberalisme.
Untuk melihat lebih jauh keterkaitan antara alur pemikran postmodernisme dengan pemikiran kontemporer, terlebih dahulu perlu diuraikan secara ringkas struktur fundamental aru pemikiran postmodernisme. Lewat jendela struktur fundamental tersebut, akan dicoba kemudian melihat respon, relevansi dan tantangan yang dihadapi oleh diskursus pemikiran keagamaan secara khusus, lebih-lebih, dalam hubungannya dengan era pertemuan berbagai budaya dan peradaban dunia dalam era globalisasi.
Dalam upaya pemetaan wilayah pemikiran postmodernisme, penulis melihat adanya tiga fenomena daasaryang menjadi tulang punggung arus pemikkiran postmodernisme. Penulis tidak beranggapan bahwa hanya ketiga cirri yang yang akan diuraikan berikut ini yang akan secara mertadapat menerangkan fenomena alur pemikiran postmodernisme, tetapi di sana masih banyak cirri dan fenomena lain yang mungkin lebih patut untuk dipertimbangkan. Adpun ketiga ciri dasar atau yan penulis istilahkan dengan struktur fundamental pemikiran postmodernisme adalah : pertama, deconstruktiosm, kedua, relativism, dan ketiga, pluralism.
Pertama, Deconstruktionism
Para protagonis pemikiran postmodernisme tidak meyakini validitas “konstruksi” bangunan keilmuan yang “baku” yang “standar” yang telah disusun oleh generasi modernis. Standar itu dilihatnya terlalu kaku dan terlau skematis sehingga tidak cocok untuk melihat “realitas” yang jauh lebih rumit. Dalam teori Sosiologi modern , para ilmuan cenderung untuk melihat gejala keagamaan sebagai wilayah pengalaman yang sangat bersifat ‘individual’. Pengalaman keagamaan itu tidak terkait dan harus dipisahkan dari kenyataan yang hidup dalam realitas social yang ada. Jangankan sampai mengaitkanya dengan politik. Pengaitan antara kehidupan beragama dan kehidupan berpolitik dianggap tabu, lantaran demikianlah konsepsi modern (post-enlightenment) sosiologi agama.
Era postmodernisme ingin melihat suatu fenomena social, fenomena keberagamaan, realitas fisika, apa adanya, tanpa harus terlebih dahulu terkurung oleh anggapan dasar dan teori “baku” dan “standar” yang diciptakan pada masa modernisme. Konstruksi atau bangunan keilmuan yang telah susah payah dubangun oleh generasi modernisme yakni era post enlightenment, ingin diubah, diperbaiki dan disempurnakan oleh para pemikir postmodernisme. Upaya-upaya seperti itu dengan sedikit bebas penulis sebut dengan ‘Deconstruktionism’ yakni mempertanyakan ulang teori-teori yang sudah mapan yang sudah standar yang dibangun oleh pola pikir modernism, untuk kemudian dicari dan disusun teori yang lebih relevan untuk memahami kenyataan masyarakat, realitas keberagamaan, dan realitas alam berkembang saat ini jauh dari masa ketika teori-teori yang sudah standar tersebut dibangun.
Kedua, relativism
Menurut Fahmi Zarkasyi dalam bukunya Liberalisasi pemikiran islam, Doktrin relativisme mulanya berasal dari Protagoras, seorang sofis yang berprinsip bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. (man is the measure of all things). dizaman Barat postmodern paham ini dicetuskan oleh F. Nietzsche dengan doktrin yang disebut nihilisme yang intinya seperti yang telah dijelakan diatas adalah Relativisme. Dengan doktrin yang sangat ampuh menggusur metafisika dan kebenaran agama itu Nietzsche berani mengeluarkan slogan ‘God Is dead’.
Sedankan menurut Dr. M. Amin Abdullah dalam bukunya Falsafah Kalam di Era Postmodernisme ia mengatakan bahwa, faham relativisme ia dikembangkan atau didoktrinkan pada era modernisme yang kemudian dikritis oleh para ilmuan-ilmuan di era postmodernisme, pemikiran postmodernisme sangat kritis terhadap berbagai uraian atau penjelasan yag bersifat objektif, matematis, absolut, dan universal seperti yang diidealkan dalam bidang keilmuan dan pemikiran falsafah era modernism.
Paham relativsme ini mengajarkan bahwa disana tidak ada lagi nilai yang memiliki kelebihan dari nilai-nilai lain. Agama tidak lagi berhak mengklaim mempunyai kenbenaran absolut, ia hanya difahami sama dengan persepsi manusia sendiri yang relative itu. Oleh sebab itu ia mempunyai status yang kurang lebih sama dengan filsafat. Dari perspektif epistemologi faham relativisme berpegang pada prinsip bahwa kebenaran itu sendiri adalah relative terhadap penderian subyek yang menentukan. Dalam artian bahwa kebenaran itu bersifat subyektifitas atau tergantung dari pelakun pencari kebenaran, pembaca dan pendengar sangatlah dihargai.
Dalam oxford dictionary of philosophy, Relativsme juga dianggap sebagai doktrin global tentang semua ilmu pengetahuan. Disini aspek-aspek sang subyek yang menetukan makna kebenaran itu dapat dipengaruhi oleh latar belakang sejarah, cultural, social, linguistik dan psikologis. Jika demikan maka ilmu pengetahuan itu tidak bebas nilai atau tidak netral, padahal masyarakat barat yang sekuler meyakini bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai dan netral.
Doktrin ini sangat mempengaruhi cendekiawan muslim pada umumnya dari tingkat mahasiswa bahkan dosen-dosennya, sehingga kini banyak yang hanyut dan menyatakan bahwa ‘kebenaran itu ralatif’, ‘kebenaran itu tidak memihak’. Faham seperti ini sesungguhnya sangatlah jauh dari kebenaran. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh seorang pemikir Islam kontemporer di era sekarang yaitu Seyyed Hossein Nasr, ia secara vocal menentang konsepsi “relativisme” yang dikaitkan dengan hitoricisme. Baginya tidak ada relativisme yang absolute lantaran hal itu akan menghilangkan “normativitas” ajaran agama, tetapi juga tidak ada pengertian “absolute” yang benar-benar absolute, selagi nilai-nilai yang absolute itu dikurung oleh historisitas kemanusiaan itu sendiri.
Ketiga, Pluralism
Akumulasi dari berbagai model dan mode berfikir di atas adalah era yang disebut-sebut dengan era pluralism. Lihatlah segala fenomena yang ada di hadapan kita. Budaya, agama, keluarga, ras, ekonomi, social, suku, pendidikan, ilmu pengetahuan, militer, bangsa, Negara, belum lagi aspirasi politik, semuanya menampakkan wajahnya yang pluralistik.
Era pluralitas ini sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang sejak dahulu kala, namun gambaran era pluralisme saat itu yakni ‘tempo doeloe’, belum sejelas seperti era sekarang. Hasil teknologi modern khusunya dalam bidang transportasi dan komunikasi menjadikan era pluralisme khususnya dalam bidang budaya dan agama ini semakin dihayati dan dipahami oleh banyak orang dimanapun mereka berada.
Mengenai pluralisme pada bagian ini penulis tidak membahasnya secara mendalam, tetapi akan dibahas pada pembahasan selanjutnya secara lebih spesifik.


BAB IV
PLURALISME

A. PENGERTIAN PLURALISME AGAMA
Secara etimologi, pluralisme agama, berasal dari dua kata, yaitu "pluralisme" dan "agama". Dalam bahasa Arab diterjemahkan "al-ta'addudiyyah al-diniyyah" dan dalam bahasa Inggris "religious pluralism". Oleh karena istilah pluralisme agama berasal dari bahasa Inggris, maka untuk mendefinisikannya secara akurat harus merujuk kepada kamus bahasa tersebut. Pluralism berarti "jama'" atau lebih dari satu. Pluralism dalam bahasa Inggris menurut Anis Malik Thoha (2005: 11) mempunyai tiga pengertian. Pertama, pengertian kegerejaan: (i)
Sebutan untuk orang yang memegang lebih dari satu jabatan dalam struktur kegerejaan, (ii) memegang dua jabatan atau lebih secara bersamaan, baik bersifat kegerejaan maupun non kegerejaan. Kedua, pengertian filosofis; berarti system
pemikiran yang mengakui adanya landasan pemikiran yang mendasarkan lebih dari satu. Sedangkan ketiga, pengertian sosio-politis: adalah suatu system yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat kerakteristik di antara kelompok-kelompok tersebut.
Adapun tentang agama para ahli sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari sudut fungsi sosialnya-yaitu suatu system kehidupan yang mengikat manusia dalam satuan-sataun atau kelompok-kelompok sosial. Sedangkan kebanyakan pakar teologi, fenomenologi dan sejarah agama melihat agama dari aspek substansinya yang sangat asasi-yaitu sesuatu yang sakral. Dari definisi diatas, maka dapat di tarik suatu pengertian bahwa "pluralitas agama" adalah kondisi hidup bersama (koeksistensi) antar agama (dalam arti yang luas) yang berbeda-beda dalam satu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masiang-masing agama.
Namun dari segi konteks dimana "plurlisme agama' sering digunakan dalam studi-studi dan wacana sosio-ilmiah pada era modern ini, memiliki definisi yang berbeda . John Hick, yang dikutip Anis Malik Thoha misalnya menyatakan :
"…pluralisme agama adalah suatu gagasan bahwa agama-agama besar dunia merupakan persepsi dan konsepsi yang berbeda tentang, dan secara bertepatan merupakan respon real atau Yang Maha Agung dari dalam pranata cultural manusia yang bervariasi; dan bahwa transpormasi wujud manusia dari pemusatan-diri menuju pemusatan hakiki terjadi secara nyata dalam setiap masing-masing pranata cultural manusia tersebut dan terjadi, sejauh yang dapat diamati, sampai pada batas yang sama".
Dengan kata lain, Hick menurut Anis menegaskan sejatinya semua agama adalah merupakan manifestasi-manifestasi dari realitas yang satu. Dengan demikian, semua agama sama dan tak ada yang lebih baik dari yang lain.
Majelis Ulama Indonesia mendefiniskan Pluralisme Agama sebagai :
"Pluralisme Agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama monoism atau idealisme yang menyatakan bahwa alam seluruhnya adalah gagasan atau idea.”
Pada dualisme, segala sesuatu dilihat sebagai dua. Filsafat Zoroaster misalnya, melihat duania terbagai kepada gelap dan terang, dan Descartes mempertentangkan antara pikiran (mind) dan benda (mater). Pada Pluralisme, segala hal dilihat sebagai banyak .
Nilai-Nilai Pluralisme Dalam Islam, Bingkai gagasan yang berserak, (Ed.) Suruin, Bandung :
Penerbit Nuansa, 2005, p.68.6
Adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga". Lebih lanjut Nurchalish Madjid yang dikutip Adian Husaini, dalam majalah Media Dakwah Edisi No. 358 tahun 2005 pluralisme agama adalah istilah khas dalam teologi. Dia juga menyatakan bahwa ada tiga sikap dialog agama yang dapat diambil, yaitu pertama, sikap ekslusif dalam melihat agama lain (agama-agama yang lain adalah jalan yang salah, yang menyesatkan bagi pengikutnya; kedua, sikap inklusif (Agama-agama lain adalah bentuk inplisit agama kita); ketiga sikap pluralis yang biasa terekspresi dalam macam-macam rumusan, misalnya " Agama-agama lain adalah jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran yang sama", "Agama-agama lain berbicara secara berbeda, tetapi merupakan kebenaran-kebenaran yang sama sah". Atau ' Setiap agama mengekspresikan bagian penting sebuah kebenaran". Komarudin Hidayat dalam Andito yang dikutif Atang Abdul Hakim dan Jaih Mobarak mengatakan bahwa pluralisme agama merupakan salah satu dari tipe sikap keberagamaan yang secara teologis pluralitas agama dipandang sebagai suatu realitas, masing-masing berdiri sejajar sehingga semangat missionaris ataudakwah diangap tidak relevan.
B. Asal Usul Pluralisme Agama
“Bagi Kamu agama kamu , bagiku agamaku “ (QS. Alkafirun : 6 )
Pada tahun 1875 Helena Blavatsky , Henry Steel Olcott, dan William Quan Judge berdiri sebuah organisasi yahudi bernama Theosophical Society di kota New York dengan tujuan mengikat persaudaraan universal tanpa melihat kelompok, bangsa dan agama, di bawah pimpinan Helena Blavatsky, Henry Steel Olcott, dan William Quan Judge.Beberapa tahun kemudian organisasi ini mendirikan International Head Quarters di Adyar,Chennai,India.Di bawah lambang Theosophical Society tersebut tertulis ayat “ There is no religion higher than Truth (Tidak ada yang lebih tinggi dari agama selain kebenaran) “. Sedangkan tujuan utama perhimpunan Theosofi adalah :
1. Mengadakan inti persaudaraan antara sesama manusia tanpa memandang bangsa, kepercayaan, kelamin, kaum atau warna kulit.
2. Memajukan pelajaran dengan mencari persamaan dalam agama-agama, filsafat dan ilmu pengetahuan.
3. Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat di terangkan dan kekuatan-kekuatan dalam manusia yang masih terpendam.
Oleh sebab itu, Theosophical Society adalah sebuah badan kebenaran yang merupakan dasar dari semua agama, yang tidak dapat dimiliki dan dimonopoli oleh agama atau kepercayaan manapun.Theosofi menawarkan sebuah filsafat yang membuat kehidupan menjadi dapat dimengerti, dan theosofi menunjukkan bahwa keadilan dan cinta-kasihlah yang membimbing evolusi kehidupan.
Gagasan Pluralisme masuk ke dalam waacana pemikiran Islam melalui tulisan-tiulisan Rene Guenon ( 1886 – 1851 ) dan diikuti oleh muridnya Frithjof Schoun. Rene Guenon adalah seorang ahli dari perkumpulan Theosophical Society di Perancis yang didirikan oleh seorang FreeMason Gerrad Encausse (1865-1916). Encause mendirikan Free SchoolOf Heremtic Science, sekolah yang mengkaji masalah misticisme. Pengalaman Spiritual Rene Guenon dalam Theosophical Society dan FreeMasonry mendorongnya untuk mengambil kesimpulan bahwa agama memiliki kebenaran dan bersatu dalam level kebenaran.
Pada tahun 1912, Rene Guenon yang semula beragama Kristen masuk ke dalam agama Islamdan berganti nama menjadi Abdul Wahid Yahya. Dalam tulisan dan buku-bukunya, Rene Guenon menghidupkan kembali nilai-nilai, hikmah dan kebenaran abadi yang ada pada tradisi dan agama-agama yang disebutnya Tradisi Primordial ( Primordial Tradition).
Menurutnya walaupun setiap agama itu berbeda, tetapi semua agama itu memiliki tradisi yang sama, disebut dengan TradisiPrimodial, yang dimiliki oleh semua agama. Perbedaan teknis yang terdapat dalam setiap agama merupakan jalan dan cara yang berbeda untuk merealisasikan kebenaran.
Menurut guenon, Semua agama termasuk agama Islam, tidak dapat dikatakan benar atau salah dengan cara mengkajiajaran agamanya, sebab semua agama itu mempunyai kebenaran yang terkandung dalam Tradisi Primordial.Semua agama dalam kegiatan ritualnya hanya merupakan cara untuk mencapai Tradisi Primordial. Rene Geunon meninggla pada tahun 1951 di Kairo sebagai seorang muslim dengan nama Abdul Wahid Yahya.
Pemikiran Rene Geunon di teruskan oleh muridnya Frijof Schuon (1907-1998).Sejak berusia 16 tahun, Scuon telah membaca tulisan Geunon “ Orient et Occident “. Kagum dengan pemikiran Geunon, Schuon berkirim surat dengan Geuonn selama 20 tahun. Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya Scoun berjumpa pertama kali dengan Rene Geunon di Mesir pada tahun 1938, dan masuk islam pada tahun 1948 dengan nama Isa Nuruddin.
Menurut buku “ Trancedentel Unity of Religions” yang di tulis oleh Schoun, agama-agama merupakan salah satu dari tiga wujud utama penjelmaan Zat Yang Mutlak ( Grand Theophanies of The Absolute) yang mempunyai dua hakikat, yaitu : asotric (batin) dan exoteric (dzahir), substansi (substance) dan aksiden (accident), atau essensi (essence) dan bentuk (form), Semua agama bersatu dalam tingkat bathin (esoteric) walaupun berbeda dalam tingkat dzahir (exoteric). Kesatuan agama dalam tingkat bathin inilah yang disebut dengan “kesatuan agama –agama dalam tingkat transedent (trancedent Unity of Religion).
Oleh karena itu setiap agama dalam tingkat lahir, tidak boleh menganggap dirinya mempunyai kebenaran mutlak (absolutely absolute).
Oleh karena itu klaim eksoterik tentang pemilikam kebenaran absolute secara ekslusif merupakan kesalahan murni, sebab pada kenyataannya setiap ungkapan kebenaran meniscayakan suatu bentuk untuk mengekspresikan nya, dan seara metafisik adalah hal yang mustahil bahwa bentuk memiliki sebuah kebenaran absolute yang ekslusif, yakni tidak boleh merupakan satu-satunya ungkapan dari apa yang diungkapkan.
Selanjutnya pemikiran Schoun diikuti , dikembangkan dan diteruskan oleh Sayed Hussein Nasr, seorang Syiah dari Iran yang menetap di Amerika. Menurut Nasr, setiap agama adalah penjelmaan dari model dasar yang merupakan salah satu bagian dari hakikat ketuhanan. Hakikat suatu agama, Seperti Islam dan Kristen, sebagaimana wujudnya dalam sejarahnya, tidak lainsesuatu yang tertulis dalam model dasarnya di alam ideal. Oleh karena itu perbedaan model dasar inilah yang sejatinya menentukan perbedaan tabiat setiap agama, yang menyebabkan timbulnya pluralitas agama. Namun demikian, model dasar ini selalu merefleksikan atau mengekspresikan focus yang tunggal yang terangkum dalam jangkaun lingkaran yang tunggal. Oleh sebab itu setiap agama pada hakikatnya merefleksikan atau mengekspresikan hakikat ketuhanan.
Nasr juga menyatakan bahwa adalah bertentangan dengan kebijakan dan keadilan Tuhan untuk membiarkan agama-agama dunia dalam kesesatan selama ribuan tahun, padahal berjuta-juta manusia telah mencarijalan keselamatan.Dengan demikian, pluralisme Agama merupakan “kehendak Tuhan” dan sebagai akibatnya semua agama benar dan dapat diikuti. Nasr berpendapat bahwa “memeluk atau percaya kepada agama apapun, kemudian mengamalkan ajaran-ajarannya secara sempurna beearti memeluk dan beriman kepada semua agama”.
Pemikiran Nasr ini banyak diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan pemikir muslim di dunia Islam, sehingga dia merupakan tokoh yang paling bertanggung jawab dalam mempopulerkan gagasan pluralisme agama di kalangan islam tradisional.
Istilah Pluralisme Agama tidak sama dengan istilah Pluralitas Agama, sebab Pluralisme Agama adalah faham yang mengakui kesamaan agama-agama,sedangkan Pluralitas Agama adalah pengakuan tentang wujudnya agama-agama dalam masyarakat.
Setiap agama mengakui kebenaran dan keunggulan agamanya masing-masing, dan tidak mengakui kebenaran agama lain, walau tetap bersikap untuk menghargai dan menghormati agama lain. Sedangkan dalam paham pluralisma Agama , setiap agama harus mengakui kebenaran agama lain, malahan menafikkan kebenran mutlak dalam agama masing-masing, sehingga semua agama adalah sama, tuhan semua agama adalah sama, sebab semua agama mnyembah Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana dikatakan oleh Husein Nasr “ semua agama adalah jalan-jalan menuju puncak yang sama.
Oleh sebab itu paham pluralisme agama, atau apapun namanya seperti istilah multi kulturalisme atau apapun namanya, yang penting jika mengajarkan kesamaan semua agama , maka hal itu bertentangan dengan ayat al Quran :
“Sesungguhnya agama yang diterima disisi Allah Adalah Agama Islam”.
(QS.Ali Imran : 19) Dalam ayat lain, Allah menegaskan :
“siapa saja yang mengambil selain agama Islam sebagai agamanya, maka Allah tidak akan menerima agama itu dan di akhirat nanti ia akan merugi” (QS.Ali Imran : 85).

BAB V
KESIMPULAN

Sejarah perkembangan peradaban Barat memang telah melewati masa yang sangat panjang, yakni kurang lebih dari dua puluh lima abad. Priode modern sejarah perkembangan perdaban barat, bukanlah sebuah priode yang muncul begitu saja diruang hampa, melainkan ada keterkaitan dengan priode-priode sebelumnya. Dan pada abad ke-IV dan XVI, manusia barat modern ingin melepaskan diri dari dominasi gereja yang sedemikian rupa mendukung kebebesannya. Dengan kebebasan itulah manusia barat modern mampu mengembengkan perdabannya sedemikian cepat, sehingga mencapai kemajuan seperti sekarang ini. Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa yang menjadi elan vital dari kemajuan barat modern adalah pandangan dunianya yang menekankan sentralnya peran akal, kebebasan dan otonomi manusia. Dengan itu, manusia Barat dapat menciptakan dan menentukan dunianya, membuat sejarah dan masa depanya sendiri. Menurut parah ahli sejarah, awal terjadi pristiwa modern ditandai dengan pergeseran teosentris ke antroposentris dalam kehidupan masyarakat. Pergesran tersebut merupakan suatu hal khas barat atau dunia kristiani. Oleh karena itu, pergeseran tersebut sama dengan mengatakan terjadinya pergeseran otoritas yang awalnya dimonopoli oleh gereja, kemudian ke individu. Akan tetapi, secara umum pergeseran tersebut bisa dimaknai, jika menggunakan sudut pandang kalangan perenialis, lepas atau tercabutnya dimensi spiritual dalam kehidupan masyarakat. Setelah berkembang selama hampir empat abad sejak kelahirannya pada abad ketujuh belas, dewasa ini ilmu pengetahuan modern dalam keadaan kritis, paling tidak dengan landasan filosofisnya. Kondisi demikian menyebabkan peradaban modern juga berada dalam kondisi kritis. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa ilmu pengetahuanlah yang menjadi tulang punggung peradaban modern.
Kelahiran postmodernisme juga sebagai reaksi terhadap pemikiran modern yang juga telah berubah menjadi mitos baru. Filsafat modern yang lahir sebagai reaksi terhadap sikap dogmatis abad pertengahan, menurut kaum postmodernisme telah terjebak dalam membangun mitos-mitos baru. Mitos-mitos itu ialah suatu keyakinan bahwa dengan pemikiran filsafat, ilmu pengetahuan, dan aplikasinya dalam teknologi, segala persoalan kemanusiaan dapat terselesaikan. Di sinilah postmodernisme “menggugat” modernisme yang telah mandeg dan berubah menjadi mitos baru.
Istilah Pluralisme Agama tidak sama dengan istilah Pluralitas Agama, sebab Pluralisme Agama adalah faham yang mengakui kesamaan agama-agama,sedangkan Pluralitas Agama adalah pengakuan tentang wujudnya agama-agama dalam masyarakat.
Setiap agama mengakui kebenaran dan keunggulan agamanya masing-masing, dan tidak mengakui kebenaran agama lain, walau tetap bersikap untuk menghargai dan menghormati agama lain. Sedangkan dalam paham pluralisma Agama , setiap agama harus mengakui kebenaran agama lain, malahan menafikkan kebenran mutlak dalam agama masing-masing, sehingga semua agama adalah sama, tuhan semua agama adalah sama, sebab semua agama mnyembah Tuhan yang sama dengan cara yang berbeda-beda sebagaimana dikatakan oleh Husein Nasr “ semua agama adalah jalan-jalan menuju puncak yang sama.

Baca Selengkapnya yuukk...

SEJARAH PERADABAN ISLAM DAULAH ABBASIAH (KEMUNDURANNYA)

Pendahuluan
Dalam rentangan sejarah panjang peradaban Islam, tampilnya Daulah Abbasiyah sebagai pemegang kekhalifahan yang menggantikan Daulah Umaiyah, ternyata membawa corak baru dalam budaya islam. Dengan di pindahkannya ibu kota pemerintahan dari Damaskus ke Baghdad merupakan awal dari perubahan yang terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini mulai berkuasa semenjak tahun 132 H/750 M sampai dengan 656 H/1258 M.
Selama Dinasti Abbasiyah ini berkuasa, pola pemerintahan yang di terapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi pemerintahan Bani Abbasiayah menjadi lima priode.

1) Priode pertama (132 H/750 M – 232 H/847 M)
2) Priode kedua (232 H/847 M – 334 H/945 M)
3) Priode ketiga (334 H/945 M – 447 H/1055 M)
4) Priode keempat (447 H/1055 M – 590 H/1194 M)
5) Priode kelima (590 H/1194 – 656 H/1258 M)

Seiring dengan berjalannya waktu dan adanya pergantian khalifah dari khalifah ke khalifah berikutnya, pemerintahan Isalm mengalami kemunduran. Sebagaimana terlihat dalam priodedasi Khalifah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai pada priode kedua. Namun kemudai, faktor-faktor kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada priode pertama, hanya karena khalifah pada priode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Di samping adanya faktor internal seperti lemahnya khalifah kemudian adanya konflik di dalam keluarga istana serta tampilnya dominasi militer, juga terhadapa faktor ekternal yang menyebabkan khalifah Abbasiyah menjadi mundur, faktor-faktor tersebut tentunya saling terkait satu sama lain dan tentunya juga berpengaruh terhadap kekuasaan Islam di dunia.


SEJARAH PERADABAN ISLAM DAULAH ABBASIAH
(KEMUNDURANNYA)
Sejak abad ke-7 masehi bangsa arab dengan cepat sekali menguasai satu persatu wilayah kemajuan dunia saat itu sampai mereka pernah menjadi penguasa yang sangat kuat dimana peta kekuatan islam melebar sampai Asia, Afrika, dan Eropa Barat daya. Kecepatan arus ekspansi tersebut dengan kemunduran islam (11 M) lebih cepat daripada fase ekspansi. Ibn Khaldun membatasi keberadaan sebuah dinasti yang bertahan sampai sekitar 100 tahun. Dinasti Abbasiah pun tidak luput dari aturan itu. Walaupun Dinasti Abbasiah berkuasa selama lima abad (750-1258 M), kemegahan dinasti ini dalam waktu yang relave tidak panjang dan bahkan sempat menempatkan dirinya sebagai Negara terkuat dan tertinggi ketika itu, ternyata akhirnya kejayaan itu mencapai kulminasi, pasca kekuasaan khalifah Wasiq (842-847 M).
Adapun faktor-faktor penyebab kehancuran Abbasiyah, diantaranya sebagai berikut: Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai masa keemasannya, pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifah, banyak faktor lain yang menyebabkan peradaban islam pada masa dinasti Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Perebutan Kekuasaan dipusat Pemerintahan
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatar belakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu. Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab ('ajam) di dunia Islam.
Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Adalah Khalifah Al-Mu’tashim (218-227 H) yang memberi peluang besar kepada bangsa Turki untuk masuk dalam pemerintahan. Mereka di diangkat menjadi orang-orang penting di pemerintahan, diberi istana dan rumah dalam kota. Merekapun menjadi dominan dan menguasai tempat yang mereka diami, sehingga khalifah berikutnya menjadi boneka mereka. Mu’tasim membangun kelompok tentara elit dari turki secara terpisah dengan tentara abbasiah. Akhirnya, mereka begitu berpengaruhdikalangan istana maupun rakyat, maka keperluan khalifah pun tergantung mau atau tidaknya mereka. Tentara bayaran turki akhirnya saat khalifah lemah, merekalah yang pegang kendali kekhalifahan, bahkan untuk mengangkat dan memecat khalifah pun merekalah yang paling menentukan.
Setelah al-Mutawakkil (232-247 H), seorang Khalifah yang lemah, naik tahta, dominasi tentara Turki semakin kuat, mereka dapat menentukan siapa yang diangkat jadi Khalifah. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwaih, bangsa Persia, pada periode ketiga (334-447), dan selanjutnya beralih kepada Dinasti Seljuk, bangsa Turki pada periode keempat (447-590H).
2. Munculnya Dinasti-Dinasti Kecil Yang Memerdekakan Diri

wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama hingga masa keruntuhan sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda, seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak, Persia, Turki dan India. Walaupun dalam kentaannya banyak daerah yang tidak dikuasai oleh Khalifah, secara riil, daerah-daerah itu berada di bawah kekuasaaan gubernur-gubernur bersangkutan. Hubungan dengan Khalifah hanya ditandai dengan pembayaran upeti.
Ada kemungkinan penguasa Bani Abbas sudah cukup puas dengan pengakuan nominal, dengan pembayaran upeti. Alasannya, karena Khalifah tidak cukup kuat untuk membuat mereka tunduk, tingkat saling percaya di kalangan penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah dan juga para penguasa Abbasiyah lebih menitik beratkan pembinaan peradaban dan kebudayaan daripada politik dan ekspansi. Selain itu, penyebab utama mengapa banyak daerah yang memerdekakan diri adalah terjadinya kekacauan atau perebutan kekuasaan di pemerintahan pusat yang dilakukan oleh bangsa Persia dan Turki.
Akibatnya propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai lepas dari genggaman penguasa Bani Abbas. Ini bisa terjadi dengan dua cara, pertama, seorang peminpin lokal memimpin suatu pemberontakan dan berhasil memperoleh kemerdekaan penuh, seperti daulat Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko. Kedua, seorang yang ditunjk menjadi gubernur oleh Khalifah yang kedudukannya semakin kuat, seerti daulah Aghlabiyah di Tunisiyah dan Thahiriyyah di Khurasan.
Dinasti yang lahir dan memisahkan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa khilafah Abbasiyah, di antaranya adalah:
1. Yang berkembasaan Persia: Thahiriyyah di Khurasan (205-259 H), Shafariyah di Fars (254- 290 H), Samaniyah di Transoxania (261-389 H), Sajiyyah di Azerbaijan (266-318 H), Buwaihiyyah, bahkan menguasai Baghdad (320-447).
2. Yang berbangsa Turki: Thuluniyah di Mesir (254-292 H), Ikhsyidiyah di Turkistan (320-560 H), Ghaznawiyah di Afganistan (352-585 H), Dinasti Seljuk dan cabang-cabangnya
3. Yang berbangsa Kurdi: al-Barzukani (348-406 H), Abu Ali (380-489 H), Ayubiyah (564-648 H).
4. Yang berbangsa Arab: Idrisiyyah di Marokko (172-375 h), Aghlabiyyah di Tunisia (18-289 H), Dulafiyah di Kurdistan (210-285 H), Alawiyah di Tabaristan (250-316 H), Hamdaniyah di Aleppo dan Maushil (317-394 H), Mazyadiyyah di Hillah (403-545 H), Ukailiyyah di Maushil (386-489 H), Mirdasiyyah di Aleppo 414-472 H).
5. Yang Mengaku sebagai Khalifah : Umawiyah di Spanyol dan Fatimiyah di Mesir.

3. Kemerosotan Perekonomian
Pada periode pertama, pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya. Dana yang masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Baitul-Mal penuh dengan harta. Perekonomian masyarakat sangat maju terutama dalam bidang pertanian, perdagangan dan industri. Tetapi setelah memasuki masa kemunduran politik, perekonomian pun ikut mengalami kemunduran yang drastis yang menyebabkan lemahnya sendi-sendi kekhalifahan Abbasiah.
Setelah khilafah memasuki periode kemunduran ini, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan negara itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, rakyat justru makin lemah dan miskin.
Menurutnya kekuatan manusia disebabkan oleh pertikaian berdarah yang sering terjadi mengakibatkan llahan pertanian menjadi tandus dan terbengkalai. Banjir di dataran rendah Mesopotami, dan bencana alam lain, kadang-kadang muncul kelaparan dan wabah penyakit yang sangat membahayakan, menelan korban, lebih dari 40 macam wabah penyakit yang tercatat dalam sejarah Arab 4 abad pertama pasca penaklukan.
Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya, kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisahkan.
4. Munculnya Aliran-Aliran Sesat dan Fanatisme Keagamaan
a. Gerakan-Gerakan Zindiq
Ini adalah sebutan untuk siapa saja yang menganut agama Manawiyah paganistik (yang menyembah nur dan kegelapan). Agama ini adalah agama lama yang berasal dari Persia dan dinisbatkan kepada Mazdak. Setelah itu sebutan Zindiq dikatakan kepada siapa saja yang mulhid atau ahli bid’ah. Kadang kala kata ini juga disebutkan kepada mereka yang selalu terlibat dalam perbuatan-perbuatan maksiat dari kalagan sasterawan.
Contohnya adalah Al-Khurramiayah. Ini merupakan salah satu mazhab kaum zindiq dan sebagai kelanjutan dari pemikiran Mazdakisme di Iran. Nama ini dinisbatkan kepada sebuah kota di Persia yang bernama Khurramah. Khurramiyah ini menghalalkan semua yang haram. Di antara pemimpin mereka yang terkenal adalah Babik Al Khurrami. Dia mempopulerkan akidah raenkarnasi dan adanya dua tuhan “cahaya dan kegelapan”, gerakan keagamaan ini muncul pada tahun 201 H/816 M, dia berhasil menguasai Hamadan dan Asfahan.
b. Pemberontakan Zinj (255-270 H)
Orang-orang Zinj mereka adalah sekelompok budak asal afrika-menimbulkan rasa takut dan ancaman terhadap pemerintaha Abbasiyah selam lebih dari 14 tahun, mereka dipimpin oleh seorang lelaki asal persia bernama Ali Bin Muhammad, seorang yang berasal dari keluarga thalifan, dia mengaku mengetahu yanga ghaib dan mendapat karunia kenabian dan secara terang-terangan mengaku berakidah sebagaimana akidah orang orang-orang khawarij. Strategi yang diambil ali adalah menyeruka pembebasan budak. Maka, banyaklah yang bergabung dengan mereka sehingga pengaruhnya semakin besar.
c. Gerakan Qaramithah (277-470 H)
Meraka adalah sekte keagamaan yang beraliran kebatinan, dasar pemikirannya mengemukakan bahwa pada setiap yang dzhir itu ada sesuatu yang mati. Ayat-ayat Al-Qur’an, menurut mereka memiliki sesuatu yang lahir dan yang batin. Tidak seoranpun yang mengtahui yang batin ini kecuali imam dari keturunan Ali. Mazhab Batiniayah ini berakar pada pemikiran Persisa yang sesat. Mereka adalah kelompok sesat dan menyimpang, awalnya menyerukan pada aliran Syiah Ismailiyah, namun akhirnya menyerukan pada diri mereka sendiri. Tokoh terkenal pada kelompok ini adalah Hamdan Ibnun Asy’ats yang bergelar Qarmath, dai berasal dari Yaman dan belajar ajaran kebatinan ini dari seorang Persia yang bernama Husaen al-Ahwazi .
5. Ancaman dari luar
Apa yang disebutkan di atas adalah faktor-faktor internal. Disamping itu ada pula faktor-faktor ekternal yang menyebabkan peradaban Islam pada masa dinasti Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur:
1. Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau priode dan menelan banyak korban.
2. Serangan tentara mongol ke wilayah kekuasaan Islam
Orang-orang kristen eropa terpanggil untuk berperang setelah paus urbanur ke II (1008-1009 M) mengeluarkan fatwanya. Perang salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang kristen yang berada dalam kekuasaan islam. Namun, diantara komunitas-komunitas timur, hanya armenia dan maronit lebanon yang tertarik dengan perang saliab dan melibatkan diri dalam tentara salib itu.
Pengaruh salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara mongol. Disebutkan bahwa Hulagu khan, panglima tentara mongol, sangat membenci islam karena ia banyak di pengaruhi oleh orang-oranag budha dan kristen nestorian. Gereja-gaereja kristen berasosiasi dengan orang-orang mongol yang anti islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahli kitab. Tentara mongol, setelah menghancur leburkan pusat-pusat islam, ikut memperbaiki yarusalem.


KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan yang menjadi penyebab mundurnya peradaban islam pada masa dinasti abbasiah :
Pertama, kecenderungan penguasa untuk hidup mewah, kelemahan khalifah dan dominasi kalangan militer terhadap pusat kekuasaan .
Kedua, munculnya dinasti-dinasti kecil akibat banyaknya pemimpin yang memisahkan diri dari pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyah.
Ketiga, munculnya pemberontakan keagamaan seperti pemberontak gerakan Zindik, pemberontakan Zinj, gerakan Qaramitath serta munculnya gerakan kebatinan.
Keempat, sesungguhnya faktor yang paling berbahaya yang menghancurkan peradaban Islam pada dinasti Abbsiyah adalah karena mereka teleah melupakan salah satu pilar penting dari Islam, yakni jihad. Andaikata mereke mengarahkan potensi dan energi umat untuk melawan orang-orang salib, tidak akan mingkin muncul pemberontakan-pemberontakan yang muncul di dalam negri yang ujungnya hanya menghancurkan pemerintahan Abbasiyah.
Kelima, akhirnya, muncul serangan orang-orang mongolia yang mengakhiri semua perjalanan pemerintahan Abbasiyah.


Daftar Pustaka
Al-Isy, Yusuuf, 2007, Tarikh ‘Ashr Al-Khilafah Al-‘Abbasiyyah, Terj. Arif Munandar, Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.

Al Usairy, Ahmad, 2010, Sejarah Islam, Jakarta: Akbar Media.

Karim, M Abdul, 2007, Sejarah peradaban dan Pemikiran Islam, Yogyakarta: Pustaka Book Publishar.

Nazir, Samsul, 2009, sejarah pendidikan islam, Jakarta: kencana

Yatim, Badri, 2000, sejarah peradaban Islam Dirasah islamiayah II, Jakarta: Raja Grapindo Persada.

Baca Selengkapnya yuukk...