Salam Perjuangan(februari 2006)


Pagi yang cerah yang disertai angin sepoi-sepoi bertiup mengoyangkan dedaunan yang ada di atas sana, sinar mentari pagi menerobos celah-celah dinding rumah yang terbuat dari kayu meranti. suasana hari raya i'dul adha yang masih terasa dan masih bergeming dimana-mana, akan tetapi suasana seperti itu tidak menghalangi para penduduk untuk melanjutkan segelumit rutinitas yang biasa di kerjakan pada hari-hari biasanya. ketika anak-anak mulai ramai untuk melanjutkan aktivitas belajarnya, saya pada waktu itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar yang terletak tidak jauh dari kediaman saya. namun disisi lain nampak jelas seorang ayah dengan gagah melangkah untuk menjemput rizki Allah yang bermuara di sana.
Pagi menjelang siang itu juga, terhening ketika mendengar berita yang mengejutkan, seorang ayah yang memiliki dua orang putra yang masih kecil dan belum mengerti tentang seluk beluk kahidupan harus pergi untuk selama-lamanya, seorang ayah yang tadinya tampak gagah pergi mencari ma'esha untuk menafkahi keluarganya, sekarang telah terbujur kaku dan ditutupi oleh lembaran-lembarab kain tenun. Setetes demi setetes air bening mengalir membasahi pipi yang masih kelihatan lugu itu, mengigat ayah yang tercinta yang tadi menciup kening ketika saya ingin berangkat sekolah dan sekarang berbalik, saya yang menciup kening ayah yang sekarang terbujur kaku sambil mengusap air mata yang terus mengalir diwajah.
Kisah hidup dan perjuangan masa lalu bersama ayah tercinta menyisakan sebuah kenangan yang tak bisa hilang begitu saja, dia yang memberiku semagat belajar, memotivasi diriku agar tekun berusaha, yang melarang diriku untuk mengharap (meminta) dari orang lain dan juga memberi inspirasi dalam meraih masa depan yang lebih cerah dan matang. ayah yang terlahir bukan dari keluarga bengsawan apalagi lahir dari keturunan orang kaya, akan tetapi ayah lahir dari keluarga biasa saja dan tidak memiliki pendidikan yang cukup, tapi dia memiliki pengetahuan yang lebih, pandai dalam bercakap dan mudah bergaul menjadikan hidupnya lebih cepat dikanal oleh masyarakt umum.
Setelah dewasa saya pernah membaca sebuah buka yang berisi " setiap orang pasti akan mati, makanya kita harus selalu mengigat Allah SWT. Hanya dengan mengigat Allah-lah hati kita akan menjadi tenang," hari yang terus berganti dan waktu terus bergulir, kejadian itu masih teringat sampai sekarang. hanya sepucuk surat ini yang bisa kutulis untuk sang ayah tercinta walaupun sang ayah tidak bisa membacanya maka surat itu terus saya simpan dan pada akhirnya saya transper kedalam blog ini. semoga Allah SWT memberikan kesabaran dan jga ketabahan kapada kita semua. salam ku Diehan.
Share on Google Plus

About Edhy Handoko

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

jang puas dengan apa yang ada di blog ini, berikan komentar anda?