TEORY KULTIVASI

Edhy Handoko
Jurusan dakwah (teori ilmu komunikasi)

Abstract
Direcly terkait dengan sosialisasi adalah wilayah penelitian disebut analisis budidaya. Yang dikembangkan oleh George Gerbner dan koleganya di University of Pennsylvania, analisis budidaya menunjukkan bahwa menonton TV berat "memupuk" persepsi tentang realitas yang konsisten dengan pandangan dunia yang disajikan dalam program-program televisi. Analisis budidaya berkonsentrasi pada efek jangka panjang dari paparan yang telah ada baik pada kedua orang dewasa dan anak-anak-dan bukan pada impacton jangka pendek sikap dan pendapat.

Gerbner dan rekan-rekannya telah melakukan analisis budidaya selama beberapa tahun, menggunakan bigges tools dan dalam beberapa kasus sampel nasional. Hasilnya menunjukkan bahwa televisi mungkin memiliki efek dan juga dampak yang lebih halus dari pada kita melihat dunia secara nyata (Joseph R. Dominick).

I. PENDAHULUAN
Televisi merupakan sebuah sistem storytelling yang tersentralisasi. Karena mengatasi halangan historis keberaksaraan dan mobilitas, televisi menjadi sumber umum primer sosialisasi dan informasi sehari-hari dari populasi yang heterogen. Namun, berbeda dengan media lain, televisi menyediakan sebuah set pilihan terbatas untuk bermacam program interes dan publik yang tidak terbatas. Televisii merupakan salah satu media komunikasi massa mempunyai fungsi yaitu; memberi informasi, mendidik, menghibur, dan mempengaruhi (Onong, 1992). Tetapi menurut pengamatan kami televisi lebih mengutamakan fungsi menghibur daripada fungsi yang lainnya. Pengaruh televisi terhadap khalayak sudah banyak yang mengetahui melalui berbagai penelitian yang dilakukan para ahli.
Penelitian tentang pengaruh televisi pada khalayak salah satunya dilakukan oleh Gabner. Awalnya Garbner melakukan penelitian tentang “indikator budaya” pada pertengahan tahun 60-an, Kekerasan Dalam Media Massa untuk mempelajari pengaruh menonton televisi. Dengan kata lain ia ingin mengetahui dunia nyata seperti apa yang dibayangkan, dipersepsikan oleh penonton TV itu? Dapat dikatakan penelitian kultivasi yang dilakukannya lebih menekankan pada dampak/effek. Analisis kultivasi adalah satu bagian dari program penelitian yang berkesinambungan, terus menerus yang dilakukan dalam jangka panjang. Ada 3 strategi penelitian tentang “indikator kebudayaan”:
1. Institutional process analysis ( analisa proses kelembagaan); menyelidiki tentang tekanan dan keterbatasan yang mempengaruhi bagaimana pesan media dipilih, dihasilkan, dan disebarkan.
2. Message system analysis (analisa sistem pesan); mengukur dan memantau gambaran umum dalam acara televisi.
3. Cultivation analysis (Analisa kultivasi); mempelajari apa dan bagaimana televisi membantu menghasilkan konsepsi penonton tentang kenyataan social (Bryant, J & D Zillmann. Media Effects: Advances in Theory and Research. 2002 : 45).
Menurut teori kultivasi, televisi menjadi media utama dimana para penontonnya belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang terbangun di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Artinya, melalui kontak kita dengan televisi kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya, dan adat istiadatnya.
Prespektif kultivasi pada awal perkembangannya lebih memfokuskan kajian pada studi televisi dan khalayak. Fokus utamanya pada tema-tema kekerasan di televise terutama Kekerasan Dalam Media Massa
II. KONSEP KEKERASAN DALAM MEDIA MASSA
Tiga konsep penting (yang dimodifikasi dalam pelbagai varian) digunakan dalam penelitian-penelitian media efek, yaitu:
a. Media Violence, atau kekerasan di media. Yang dimaksud adalah isi media yang mengandung unsur kekerasan. Bisa berupa unsure kekerasan yang terdapat dalam film, televisi, berita. dll. Pada level individu, yang diteliti adalah terpaan isi media yang mengandung kekerasan pada individu.
b. Violence didefinisikan Gerbner (1972) sebagai ‘the overt expression of physical force against others or self, or the commpelling action against one’s will on pain of being hurt or killed." (ekspresi yang nyata kekuatan fisik terhadap orang lain atau diri sendiri, atau tindakan melawan commpelling seseorang akan pada rasa sakit karena terluka atau terbunuh)
c. Aggressive Behavior, didefinisikan Berelson (1973) sebagai "inflicting bodily harm to other and damage to property." (menimbulkan kerusakan fisik dan kerusakan lain harta benda.
III. BEBERAPA PENELITIAN EFEK MEDIA VIOLENCE
Kebangkitan Televisi pada tahun 1950 berdampak pada studi efek media yang kini memusatkan risetnya pada terpaan televisi (90 % rumah tangga di AS menonton televisi).
a. Schramm, Lyle dan Parker (1961) mendiskusikan sejumlah contoh. kekerasan imitatif dan sumber berita yang disiarkan pada 1950. Mereka berargumen bahwa hubungan yang kentara antara terpaan adegan kekerasan di TV dengan imitasi kejahatan dan kekerasan bukanlah faktor kebetulan belaka.
b. b. Lieber, Sprafkin, dan Davidson (1981) melacak peran Pokja Senat yang dipimpin oleh Senator Estes Kefauver untuk Juvenile Delinquency (mempertanyakan perlu tidaknya adegan kekerasan di televisi). Kendati gagal menetapkan konsensus seputar efek- efek kekerasan di televisi, riset ini menyiratkan prioritas untuk mengadakan studi tentang efek terpaan media terhadap perilaku agresif. Kekerasan Dalam Media Massa
c. George Gerbner (1972) melakukan studi analisis isi dan menemukan bahwa acara TV yang diputar pada jam-jam utama (prime time) berisi 8 contoh kekerasan setiap jamnya. Diantara penelitian yang dilakukan untuk mengetahui efek terpaan media televisi pada khalayak, adalah efek media violence. Salah satunya yang dilakukan oleh Huesmann & Eron (1986). Mereka meneliti anak-anak yang diterpa siaran televisi sejak usia 8 tahun sampai 30 tahun.Metode yang digunakan yaitu panel suvei, dan ternyata diperoleh hasil bahwa mereka yang menonton acara kekerasan di TV pada level tertinggi saat anak-anak lebih cenderung terlibat kejahatan serius ketika dewasa. Zillman (1991) mengemukakan teori exitation transfer yang memperkenalkan properti arousal inducing pada media violence untuk memahami intensitas reaksi emosional setelah menonton.
Hasilnya, seorang penonton bangkit rasa marahnya setelah diterpa media violence. Arousal atau bangkitnya rasa marah ini dapat ditransfer pada kemarahan yang sesungguhnya, bahkan mengintensifkan hingga menambah kecenderungan berperilaku agresif.
IV. KONSEP KULTIVASI
Kultivasi melihat kontribusi terhadap konsepsi realitas social bukan sebagai proses ’push’ monolitis satu arah, melainkan sebagai proses gravitasional dengan sudut pandang dan arah ’pull’ yang bergantung pada tempat kelompok pemirsa dan gaya hidup mereka sejajar dengan referensi garis gravitasi, mainstream dunia televisi. Jadi, kultivasi adalah proses interaksi di antara pesan, audiens, dan konteks, yang terus berlangsung, kontinyu, dan dinamis (Bryant, J & D Zillmann : 2002).
V. METODE - METODE ANALISIS KULTIVASI
Analisis kultivasi dimulai dengan analisis sistem pesan untuk mengidentifikasi pola-pola permanen, kontinyu, dan overarching dari konten televisi. Klasifikasi light viewer, medium viewer, dan heavy viewer diukur dengan jumlah waktu responden menonton televisi rata-rata setiap hari. Yang penting adalah adanya perbedaan tingkatan menonton, bukan pada jumlah akurat menonton. Bukti kultivasi yang bisa diobservasi tergolong sederhana karena light viewer sekalipun dapat menonton televisii beberapa jam sehari dan hidup dalam kultur umum yang sama dengan heavy viewer. Karena itu, penemuan pola konsisten berbeda yang kecil tapi pervasive di antara light dan heavy viewer sangat mungkin. (Bryant, J & D Zillmann : 2002).
Pergeseran kecil tapi pervasif dalam perspektif kultivasi dapat mengubah kondisi kultural dan membalik keseimbangan pembuatan keputusan politis dan sosial.

1. PENELITIAN TENTANG EFEK MEDIA (PERSPEKTIF KULTIVASI )
Garbner melakukan penelitian dampak televisi dengan menggunakan metode survey analisis, dimana populasi dan sample adalah penonton pria dan wanita yang dibedakan berdasar usia yaitu; dewasa, remaja, dan anak-anak. Juga diperoleh data bahwa rata-rata orang menonton TV di Amerika Serikat adalah 7 jam sehari. Maka muncul istilah heavy viewers (pecandu berat televisi) dan light viewers (penonton biasa) Para pecandu berat televisi akan menganggap bahwa apa yang terjadi di televisi itulah dunia senyatanya. Misalnya, menanggapi perilaku kekerasan yang terjadi di masyarakat. Para pecandu berat televisi akan mengatakan bahwa sebab utama munculnya kekerasan Kekerasan Dalam Media Massa karena masalah sosial (karena televisi yang sering ia tonton sering menyuguhkan berita dan kejadian dengan motif kekerasan). Padahal bisa jadi sebab utama itu lebih karena faktor cultural shock dari tradisional ke modern. Contoh lainnya yaitu pecandu berat televise mengatakan bahwa 20% penduduk dunia berdiam di Amerika , padahal senyatanya Cuma 6 %. Dengan kata lain, penilaian, persepsi, opini penonton televisi digiring sedemikian rupa agar sesuai dengan apa yang mereka lihat di televisi. Bagi pecandu berat televisi, apa yang terjadi pada televisi itulah yang terjadi pada dunia sesungguhnya.
Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton meyakininya. Dengan kata lain pecandu berat televise mempunyai kecenderungan sikap yang sama satu dengan lainnya. Televisi, sebagaimana diteliti oleh Garbner. Dianggap sebagai pendominasi “lingkungan simbolik” seseorang. Teori kultivasi menganggap bahwa televisi tidak hanya disebut sebagai jendela atau refleksi kejadian sehari-hari disekitar kita, tetapi dunia itu sendiri (McQuail dan Windahl, 1993). Garbner juga berpendapat bahwa gambaran adegan kekerasan di televisi lebih merupakan pesan simbolik tentang hukum dan aturan. Dengan kata lain perilaku kekerasan yang diperlihatkan di televisi merupakan refleksi kejadian disekitar kita. Jika adegan kekerasan itu merefleksikan aturan hokum yang tidak bisa mengatasi situasi seperti yang digambarkan dalam adegan televisi , bisa jadi yang terjadi sebenarnya juga begitu. Jika kita menonton acara seperti Buser, Patroli Sidik, dll. Di sana terlihat beberapa perilaku kejahatan yang dilakukan masyarakat, Dalam prespektif kultivasi adegan yang terjadi dalam acara-acara itu menggambarkan dunia kita yang sebenarnya. Bahwa di Indonesia kejahatan itu sudah demikian luas dan mewabah. Acara itu menggambarkan dunia kejahatan yang sebenarnya yang ada di Indonesia. (Nurudin, Komunikasi Massa:2003).
Tuduhan munculnya kejahatan di dalam masyarakat disebut dengan “sindrom dunia makna”. Pecandu berat televisi memandang dunia sebagai tempat yang buruk, tidak demikian dengan pandangan pecandu ringan. Efek kultivasi memberikan kesan bahwa televisi mempunyai dampak yang sangat kuat pada diri individu. Mereka beranggapan bahwa lingkungan sekitarnya sama seperti yang tergambar di televisi.
2. KARAKTERISTIK KHALAYAK MEDIA MASSA
Stuart Hall, kulturalis media, menyusun kategori khalayak media dalam tiga klasifikasi: dominant reader, oppositional reader, dan negotiated reader. Dominant reader adalah kategori khalayak yang mengikuti arus dominan pemberitaan media --apa pun kata media dikunyah habis-habisan, tanpa kecuali. Oppositional reader, sebaliknya, kategori khalayak yang selalu bertentangan sikap dengan arus dominan media. Media jadi sejenis public enemy yang banyak menghasut masyarakat untuk mengganti nilai-nilai luhur dengan nilai- nilai "modern" dan "kosmopolitan". Kategori negotiated reader merujuk khalayak media yang moderat. Bila yang ditampilkan media sesuai dengan keyakinannya, mereka akan memanfaatkan media. Namun, ketika bertentangan, media akan ditinggalkan.
Jenis khalayak terakhir bersikap kritis dalam menyikapi media. Sayangnya, sebagian penonton televisi kita agaknya tergolong kategori dominant reader. Mereka mengikuti, saja arus media, mengunyah apa pun yang ditampilkan media massa, dan mengonsumsi segala konflik-peristiwa yang disuapkan media: mulai dari sensasionalitas perselingkuhan dan perceraian para artis sampai pada geger kriminalitas yang nonsense ala Kolor Ijo.(Santi Indra Astuti, 2005).
Efek kultivasi semakin lengkap ketika media berhadapan dengan khalayak penonton yang pasif. Khalayak dominant reader ini Kekerasan Dalam Media Massa percaya saja dengan apa pun yang ditampilkan media. Mereka tidak menyikapinya dengan kritis. Mereka tidak membandingkannya dengan sumber-sumber informasi kredibel lain.
3. PEMBAHASAN MASALAH
Dari beberapa teori dan penelitian tersebut, bisa dibayangkan dampak yang akan terjadi di masyarakat Indonesia jika acara yang ditonton sebagian besar tentang kekerasan, pornografi,dll. Walaupun banyak ahli mengatakan bahwa khalayak selektif terhadap pesan dari media massa (televisi), juga faktor pendidikan, budaya, dan lingkungan tempat tinggal lebih berpengaruh daripada tayangan televisi, tetapi jika kita kaitakan dengan situasi di Indonesia yang sebagian besar penduduknya hidup di daerah terpencil, pendidikan masih rendah, kontrol sosial yang kecil, maka sepertinya dampak negatif yang akan lebih berpengaruh daripada dampak positifnya. Belum lagi menjamurnya tayangan TV berbau porno dan situs- situs porno di internet. Semua itu berdampak langsung bagi remaja kita saat ini. Lihat saja anak-anak muda pengguna narkoba meningkat, perkosaan hampir tiap hari meminta korban, remaja-remaja SMP dan SMA yang kebobolan dan kasus-kasus penyimpangan yang lainnya. Semua itu rupanya belum membuat masyarakat sadar bahwa kebebasan pers yang dibuka pemerintah membawa dampak yang sangat luas, yaitu runtuhnya nilai-nilai moral dan agama dikalangan masyarakat Indonesia yang terlena oleh kebebasan, termasuk kebebasan berperilaku yang mengabaikan rasa malu.
Pers bebas rupanya telah disalahartikan, bahkan oleh insane pers itu sendiri. Pers bebas berarti boleh menampilkan foto-foto wanita atau pria berbusana minim, nyaris bugil, memuat cerita-cerita yang membangkitkan nafsu birahi dan gambar atau film yang mempertontonkan hubungan sex secara vulgar. Kekerasan Dalam Media Massa Bila kita lihat perkembangan media yang secara besar-besaran menampilkan hal-hal yang berbau kekerasan dan pornografi akhir-akhir ini tentu akan lebih jelas bila kita tinjau dari beberapa aspek yang melatarbelakangi masalah tersebut, yaitu:
1. Aspek Ekonomi. Perkembangan teknologi komunikasi daninformasi yang sangat pesat, menjadikan industri media semakin menuju ke arah money oriented, karena biaya produksi yang makin tinggi. Seperti dikatakan Murdock dan Golding (1991) dalam “for Political Economy of Mass Communications” bahwa “tumbuhnya media ke skala industri-pengenalan teknologi baru dan produksi massa, menjadikan tingginya tingkat kebutuhan dukungan financial yang lebih besar”. Karena jika perusahaan media tersebut ingin tetap exis maka keuntungan materi harus tetap diperjuangkan. Dallas Smithe dalam tulisannya mengatakan bahwa “media sebagai produser tidak hanya ditempatkan pada komoditas hiburan, tetapi audien itupun juga dapat ditempatkan pada posisi yang sama”. Audien sebagai komoditas dijual ke pengiklan. Audien menghasilkan nilai surplus bagi pengiklan dengan menggunakan waktu yang audien miliki untuk mengkonsumsi iklan dan dalam konsumsi itu dipakai untuk menawarkan dan menjual komoditas lainnya (Boyd-Barrett, 1995). Terpakunya para pengiklan pada rating acara, menjadikan perusahaan media menampilkan acara yang disukai khalayak (yang berating tinggi), walaupun kriteria rating itu sendiri masih perlu dipertanyakan. Karena berdasarkan rating acara mistik, porno, dan kekerasan menempati posisi yang tinggi maka merekapun berlomba menyuguhkan acara-acara tersebut.
Kita semua tahu bahwa sesuatu yang tergolong pornografi, mistik, dan kekerasan mempunyai nilai jual tinggi. Semua kalangan baik pengusaha, mahasiswa, sopir bis, abang becak, ibu rumah tangga mengkonsumsi media tersebut. Lihat saja Kekerasan Dalam Media Massa mulai dari Telenovela Latin, Sinetron yang menjual mimpi, berita kriminal yang dikemas mirip film biru (adegan rekonstruksi yang sangat vulgar), Acara mistik yang menjurus ke perbuatan syirik, sinetron mistis yang berkedok keagamaan, musik lokal dan luar negeri yang video klipnya vulgar dan tak senonoh, dan masih banyak acara sejenis yang terlalu banyak untuk disebutkan, semua laku keras dipasaran. Pokoknya bisnis tersebut terutama pornografi merupakan kegiatan yang sangat menguntungkan, film porno, gambar porno, foto porno, kartun porno, humor porno, dan semua yang berbau porno merajalela sebagai komoditas ekonomi.
2. Kebebasan pers yang baru diberlakukan oleh pemerintah setelah sekian lama dibelenggu oleh rezim orde baru, tapi sayangnya kebebasan tersebut tidak digunakan untuk hal-hal yang positif ( sebagai kontrol pada pemerintah dan penguasa, penegakan demokrasi, penegakan hukum dan keadilan), tetapi digunakan untuk hal-hal yang tidak bertanggungjawab.
IX. KONTROVERSI HASIL KAJIAN
Pihak media massa sering memberikan argumentasi bahwa prespektif kultivasi dan dampak media violence dari tayangan televise terlalu dibesar-besarkan. Perilaku kita boleh jadi tidak hanya dipengaruhi oleh televisi, mungkin dipengaruhi oleh media lain, pengalaman langsung, dll. Beberapa ahli yang memberi kritik terhadap Gerbner antara lain :
• Doob dan McDonald, mereka mengatakan bahwa di dalam mempelajari thema kekerasan, kontrol lingkungan lebih cocok dibanding kontrol pendapatan seperti yang pernah dikemukakan oleh gerbner. Kekerasan Dalam Media Massa
• Hirst, mengatakan bahwa sebuah hubungan nyata antara terpaan kekerasan televisi dan takut akan kejahatan dapat dijelaskan dengan lingkungan dimana penonton tinggal (Livingstone, 1990). Mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya tinggi lebih percaya bahwa kemungkinan untuk diserang atau diganggu daripada mereka yang tinggal di lingkungan yang tingkat kriminilitasnya rendah.
• Pingree dan Hawekins, mereka mengatakan bahwa membahas jenis isi lebih berguna dari pada mengukur jumlah penonton, sebab penonton itu selektif terhadap pesan yang diterimanya.
• Frederick Wiliams (1989), mengomentari penelitian yang ada sebagai berikut: “Orang yang merupakan pecandu berat televisi seringkali mempunyai sikap stereotipe tentang peran jenis kelamin, dokter, bandit atau tokoh-tokoh lain yang biasa muncul dalam serial televisi. Dalam dunia mereka ibu rumah tangga mungkin digambarkan sebagai orang yang paling concern terhadap urusan bersih-sersih rumah. Suami adalah orang yang selalu menjadi korban dalam kisah lucu. Perwira polisi menjalani hari-hari yang menyenangkan. Semua bandit berwajah seram”. Beberapa kritikus juga mengatakan bahwa penonton sebenarnya juga aktif di dalam usaha menekan kekuatan pengaruh televisi seperti yang tidak diasumsikan teori kultivasi. Teori kultivasi menganggap bahwa penonton itu pasif.
Teori kultivasi lebih memfokuskan pada kuantitas menonton televisi atau “terpaan” dan tidak menyediakan perbedaan yang mungkin muncul ketika penonton menginterpretasikan siaran-siaran televisi. Penonton mempunyai motivasi dan interpretasi yang berbeda satu sama lain. Kekerasan Dalam Media Massa Josep Dominick mengatakan bahwa ”Individu yang menonton televisi tanpa motivasi dan perencanaan sebelumnya lebih mudah untuk melupakan apa yang dilihatnya dari pada mereka yang menonton televisi dengan motivasi dan perencanaan sebelumnya (Dominic, 1990).
Perlu juga dilihat lingkungan/ daerah penonton yang terkena dampak kultivasi. Karena penelitian yang dilakukan Gerbner dan kawan-kawan dilakukan di Amerika Serikat. Hanya sedikit bukti bahwa efek kultivasi itu terjadi di luar AS. Weber ( yang di kutip Condry, 1989) misalnya tidak menemukan bukti di Inggris bahwa ada hubungan antara kecanduan televisi dengan perasaan tidak aman. Itulah kenapa televisi di Inggris sedikit menampilkan adegan kekerasan disbanding televisi AS. Condry kemudian menyarankan seharusnya ada kritik yang dilakukan sebelum adegan televisi disiarkan. Atau bisa jadi karena di Inggris lebih banyak budaya media dibanding AS
X. KESIMPULAN
Terlepas dari pro-kontra masalah dampak media massa terhadap penonton, dalam kasus di Indonesia kita seyogyanya lebih bijaksana dalam menyikapi. Memang diperlukan penelitian lebih banyak dalam konteks Indonesia, mengingat penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan lebih banyak di Amerika Serikat dan Eropa.
Bukannya kita terlampau menyederhanakan atau menafikkan faktor-faktor lain yang tidak kalah potensial dalam memicu perilaku agresif. Misalnya faktor depresi dan pengalaman traumatik. Tapi, kalaupun peniruan modus operandi kriminalitas dianggap berlebihan, toh efek kriminalitas di televisi tetap saja perlu diwaspadai ketika muncul dalam bentuk desensitisasi kekerasan.
Desensitisasi kekerasan, atau penumpulan kepekaan terhadap kekerasan merupakan gejala yang umum terjadi ketika kekerasan tak lagi dianggap sebagai hal yang luar biasa. Maka, tatkala masyarakat Kekerasan Dalam Media Massa diterpa oleh informasi kekerasan, dan menganggap realitas media tak beda dengan realitas nyata (prespektif kultivasi), perilaku kekerasan pun disahkan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti itulah kiranya yang terjadi akhir-akhir ini pada masyarakat Indonesia, lihatlah bagaimana masyarakat ramai-ramai menghakimi pelaku kriminalitas. Memukuli maling sampai mati, membakar hidup-hidup orang yang dicurigai sebagai perampas ojek (yang ternyata bukan pelaku sesungguhnya!), mengarak dan menggunduli (belum termasuk penyiksaan fisik) anggota masyarakat yang dicurigai melakukan perselingkuhan, dan sebagainya.
. Tampaknya apa yang dikemukakan oleh Baran dan McQuail tentang teori masyarakat massa, tengah berlangsung di Indonesia. Dimana masyarakat mudah dipengaruhi, media mempunyai kekuatan yang besar, sedangkan media banyak berperan disfungsional. News judgement banyak ditinggalkan oleh media kita demi mengejar rating dan prestise yang bermuara pada satu tujuan "keuntungan". Media tidak lagi bijaksana dan lupa bahwa mereka adalah institusi social yang punya tanggung jawab menjaga tatanan sosial, mendidik masyarakat, bukan sekadar memberikan informasi. tetapi tidak mendidik.
Mengacu kepada pendapat Peter Beroer dan Thomas Luckmann tentang realitas sosial sebagai sebuah konstruksi sosial, adalah benar bahwa kekerasan adalah sebuah realitas sosial. Jika media berkilah bahwa mereka hanva menyampaikan realitas yang ada. Mereka juga lupa bahwa apa vang mereka lakukan dengan menayangkan beragam tindak kekerasan dengan frekuensi yang sering, mereka berinteraksi dengan khalayak, dan ini dapat mengkonstruksi realitas sosial yang baru, kekerasan- ekerasan yang baru. Media mengangkat realitas kekerasan tetapi juga menciptakan realitas kekerasan. Namun yang menyedihkan adalah. bahwa terdapat kecenderungan bahwa media menciptakan kekerasan yang baru, Kekerasan Dalam Media Massa dengan kekuatan mereka melalui isi dan kemasan pesan yang ditayangkan. Apakah hal ini disadari atau tidak, tapi terkadang ini juga menjadi sebuah dilema ketika media dihadapkan pada tujjuan utamnya sebagai lembaga bisnis.

DAFTAR PUSTAKA
1) Baran, Stanley J, dan Denis K. Davis, Mass communication Theory, Foundation, Ferment and Future, Wadsworth, Californis, 2003.
2) Boyd-Barrett, Oliver & Newbold, Cris, Approach to Media: A Reader, London, Arnold, 1995
3) Bryant, Jennings, dan Dolf Zilmann, Media Effect, LEA Publisher, New Jersey, 1994.
4) Dominick R., Joseph, The Dynamics of Mass Communication, Sixth Edition, McGraw-Hill College, 1998.
5) McQuail, Dennis, Mass Communication Theory, An Introduction, fourth Edition, Sage Publication, London- Thousand Oak-New Delhi, 2000.

6) Nurudin, Komunikasi Massa, Cespur, Malang, 2003.
7) Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, Seventh Edition, Wadsworth, 2002.
ARTIKEL
• Santi Indra Astuti, Kekerasan Kriminalitas di Televisi,. Bandung, 2005.
• Hestin, Efek Media Violence, Jakarta, 2005.

Share on Google Plus

About Edhy Handoko

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar

jang puas dengan apa yang ada di blog ini, berikan komentar anda?